welcome olive ......

jadilah olive yang setia kepada popeye ...

Minggu, 13 April 2014

Rindu Seorang Pelaut

Setelah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter yang memakan waktu setengah hari... Menembus hutan dengan menumpang truk angkutan kayu, sampailah pada sebuah perkampungan... Dan akhirnya suamiku DAPAT SIGNAAALLLL...!!! Alhamdulillaahirrobbil 'alamiin.... Kau kabulkan doaku Ya Rabb... Doa kami semua. Suamiku msh diberi selamat, sehat meski dlm keadaan yg begitu sulit. Kapal "Sombar" nya sedang berada di laut tengah hutan dibalik bukit yang amat tinggi. Kapalnya tidak bisa berlabuh jangkar karena kedalaman laut yang tinggi, dan tidak adanya tenaga darat untuk membantunya. Padahal kayu yang akan dimuat adalah jenis kayu tenggelam yang jumlahnya ±400 batang. Muat pun hanya mengandalkan cuaca. Kapal yang tak bisa sandar itu semoga saja bisa diam dalam hantaman gelombang. Berharap angin besar tak kan menghampirinya. Saat ini baru 200 an kayu yang berhasil di muat di kapalnya. Itupun per-kayu harus dipakaikan pelampung. Setiap harinya hanya 10 kayu yang berhasil di muat. Jadi harus berapa banyak hari lagi yang dihabiskan kru "Sombar" di pedalaman Halmahera itu? Kata suamiku, ia terpaksa "mencari" signal untuk melapor ke perusahaan bahwa bahan bakar tinggal seminggu lagi. Mustahil jika harus menunggu selesainya muat kayu tsb. Ohhhh.... Betapa susahnya pekerjaanmu Yah... Belum lagi, persediaan logistik yang semakin menipis. Dan harus menempuh perjalanan 1 hari jika ingin bertemu pasar. Karena suamiku tidak berani memancing (mitos kalau istri lg hamil tdk boleh mancing), dan jika ia sungkan ikut memakan hasil pancingan anak2 buahnya, ia setiap hari hanya makan nasi putih dan telur rebus. Katanya piringnya tak ada warna lain selain putih.... Geli, tapi miris juga mendengarnya... Pun dia katanya ingin sekali mendengar suara anaknya... Ingin bertanya padaku ttg perkembangan si kecil didalam perut... Ia rela menempuh perjalanan jauh itu demi mendapatkan sinyal. Sedang asyiknya kami bertukar cerita, melepas rindu, truk kayu pun membunyikan klakson memberikan tanda bahwa akan berangkat ke dermaga tengah hutan itu (lagi). Huh... Kata siapa jadi pelaut itu enak hanya karna memandang gajinya? Jangan jadikan semua itu menjadi kesombongan semata. Semua profesi pasti ada resikonya. Janganlah berbangga hati menjadi istri pelaut tanpa mengerti segala perjuangan suami di tengah laut sana. Berat sekali rasanya menutup telepon. Tapi segera ku tepis dengan menyemengatinya meski hanya dg kata2. Tak lupa ia minta doa, agar segera bisa menyelesaikan misi ini dan pulang tepat pada waktunya. Itu pasti sayang. Doa itu tak kan pernah lalai aku panjatkan disetiap sujudku. Selamat berjuang lagi sayang. Semoga Allah selalu menyertaimu, sampai tali jangkarmu terikat kuat di pintu dermaga. Sampai kau berdiri dg senyuman di ujung pintu rumah kita. Aamiin...

Sabtu, 01 Februari 2014

Ketika Rindu Kita Tak Lebih Penting

Hmm... Suami berangkat layar lagi. Nunggu lagi. Galau lagi. Sepi lagi. Daaan.... rindu lagi. Begitulah, yang selalu aku rasakan setiap kali suami berangkat layar. Membesarkan hati untuk menjalani kehidupan sendiri. Tapi ternyata, mulai tahun ini, aku tidak begitu mempersoalkan rindu itu. Dan baru kali ini, rinduku pun menjadi nomor dua, tiga, empat, lima..... Atau pun nomor yang kesekian. Ternyata sekarang, ada yang lebih merindukannya. Ada yang lebih peka terhadap ketidakhadirannya. Semua itu terjadi karena adanya dia.. Buah cinta kami berdua. Dia yang masih kecil itu, ternyata hatinya lebih peka terhadap ayahnya. Dia yang baru saja akrab dengan wangi tubuh ayahnya, ternyata menyimpan sebuah pertanyaan besar dalam pikirannya... Dimana ayah? Kemana ayah? Aku mau didekat ayah... Memang semua itu tak terucap. Tapi aku dapat merasakannya.. Danish kecilku. Bertemu ayahnya saat usia 5 bulan, dan kembali ditinggal saat usia 1 tahun. Saat dia mulai terbiasa dg peluk cium ayahnya. Sekarang harus terbiasa dg ke"tiadaan" itu untuk sementara waktu. Rinduku sekarang jadi nomor kesekian.. Rindu yang semula menyiksa batin dan raga itu, serasa lebih ringan kurasa ketika melihat si kecil juga ikut merasakannya. Rasa ingin bertemu yang menggebu-gebu itu sekarang berubah menjadi ingin segera mempertemukannya dengan anak kami. Segala angan-angan untuk ini itu setelah dia kembali nanti, seakan tak penting asal peluk ciumnya sudah kembali lagi untuk si kecil buah hati kami. Kebiasaan menangis tiap malam ketika merindukannya, memang amatlah menyakitkan... Tapi ternyata lebih menyakitkan melihat si kecil memeluk dan menciumi foto ayahnya tiap kali melihat figura yang terpajang rapi di meja. Sedih memang saat berhari-hari tak bisa menghubunginya karna sinyal yang tak bersahabat. Tapi ternyata lebih sedih ketika dia memanggil "ayah" setiap tangis dan ratapnya yang menyayat. Dan memang senang bukan kepalang ketika ada pesan masuk bertuliskan "I miss u honey". Tapi sekarang lebih senang lagi jika ada pesan masuk berisikan, "baik2 disana bersama anak kita". Tak jarang, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk mamaksamu tetap menghubungiku. Sering sekali, rasa rindu itu menjadikan egoisku untuk memaksamu cepat pulang memelukku. Menjadi kewajiban, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk marah-marah padamu saat berkali-kali mengundur kepulanganmu. Aku baru mengerti sekarang. Kau mengajariku bersikap dewasa dimasa yang nanti akan lebih sulit dari masa itu. Sekarang aku baru paham, rindu2 yg membuat egoisku itu, benar-benar tak lebih penting dari menjaga fikiran dan perasaan si kecil yang belum tau apa-apa itu. Sekarang dan masa-masa yang akan datang, aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah kesabaran dalam memahami rindu anak-anakku dg ayahnya. Aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah ketegaran dihadapan anak-anakku yang juga dilanda rindu dengan ayahnya. Dan penantian ini tak kan berarti tanpa akhirnya aku melihat mereka berpelukan di ujung pintu ini. Menjawabkan pertanyaan si kecil, "kemana sosok yang selalu memanjakanku, kenapa tiba-tiba tak ada dirumahku, kenapa tak menyahut ketika ku memanggilnya.... Jawaban itu kan ia temukan saat kembali memeluk ayahnya tercinta.. Suatu hari nanti. Itu pasti. Sabar ya anakku sayang. Kita tunggu ayah disini dengan banyak mendoakannya malam ataupun siang. Ayah pasti pulang.. Ayah pasti pulang..! Ayah pasti pulang..!!! Memeluk kita lagi dengan penuh kasih sayang. (◦ˆ⌣ˆ◦)•.♥.•

Senin, 09 Desember 2013

Jadi Istri Pelaut??? So What??

Suatu ketika ϑαπ setiap kali, ăϑα̲ orang bertanya padaku? "Suaminya кеяرд dimana?" Jawabku pasti, "لαυн... ϑ¡ laut...". Dan lanjut si penanya, "Wah... Pelaut ソソªªªª?, duuuh....". Aku cuman senyum2 ªăjjªªª... Meskipun dalam hati sebenarnya aku bertanya, "έmªπġ kenapa kalo suamiku pelaut?". Ǥǎ̜̣̍ƙ тдυ ソソªªªª apa Чǝлƍ ăϑα̲ ϑ¡ pikiran orang kalo denger profesi seorang pelaut... Perasaan biasa ªăjjªªª dech jadi istri pelaut.. Bakal ditinggal lama? Ǥǎ̜̣̍ƙ istri pelaut ªăjjªªª ќôǤ... Noh, istri para tentara, mereka pun bakal ditinggal lama oleh suaminya karna tugas negra... Istri para ulama, mereka pun ditinggal lama untuk.melaksanakan kurudz, bahkan sampai ke negara2 لαυн untuk menyebarkan ilmu agama... Atau istri para TKI, itu јนбα bakalan lama ditinggal suaminya kan? Hmm... ϑαπ masih banyak ㄴαgเ้ para istri yang lama tidak bertemu dg suami tercinta... So what??? Kita ga usah terlalu Gдւдυ dg pikiran orang2 itu. Kita јนбα Ǥǎ̜̣̍ƙ usah terlalu lebhay bersedihnya kalo Ĺªģ¡ kangen abis sama si popeye. (Meskipun q kadang ğî†ΰ јนбα sihhh, :P ) Jadi istri pelaut suka makan ati kalo kangen tp Ǥǎ̜̣̍ƙ Ъϊśå komunikasi? Betul έmªπġ. ☀Ъ膆ћµ Ĺ••=)) ••Ъ膆ћµ Ĺ ••\=D/ ••Ъ膆ћµ Ĺ• • ♣:D☀ Tapi sebelum kita menyanggupi untuk berdampingan dg nya, bukankah kita udah тдυ berbagai konsekuensinya? Чǝлƍ namanya ϑ¡ laut juga pasti Ǥǎ̜̣̍ƙ ăϑα̲ sinyal olivers... jαδι ოαυ makan ati sampe kapan? Нĭ°°~нĭ°°~нĭ ~°°нĭ~°°. Ǥǎ̜̣̍ƙ kita ªăjjªªª kok yg menganggap sinyal itu barang berharga bak intan berlian. Banyak mereka2 Чǝлƍ реηφεη sekali bertukar кдвдя dg kekasih hati tp terhalang sinyal. Mereka Чǝлƍ suaminya bertugas ϑ¡ pedalaman, apapun profesinya јนбα susah berkomunikasi dg orang2 tercintanya... Jadi istri pelaut takut ditinggal selingkuh ato tergoda untuk selingkuh??? ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ, kalo ini mah aku ketawain ªăjjªªª, ћϱћϱ....ћϱћϱ‎​‎​ (¬_¬")... Abisnya aneh2 ªăjjªªª sih... Selingkuh itu dosa. Jadi urusannya sama Allah. Чǝлƍ penting kita setia padanya. Masalah profesinya yg rentan dg kejenuhan dlm bekerja ϑαπ jauh dg istri tercinta membuat ia sesekali berpaling dari kita? Hmmm jangan suudzon dehh.. Pekerjaan dikapal itu menguras waktu ϑαπ tenaga lho. Untuk makan ªăjjªªª kadang lupa, apalagi untuk urusan Чǝлƍ begituan? Dan kalo masalah profesi ϑ¡ kait2kan dg perselingkuhan, toh banyak noh suami2 Чǝлƍ kerjanya di darat dan tiap hari ketemu dg istri tetep aja masih pengen selingkuh. Jadi apa profesi itu mempengaruhi? Semua tergantung pribadi masing2 kalo aku rasa... Yg penting kita setia. Urusan dia mau selingkuh ato tidak, itu urusan dia dg Yang Kuasa. Jadi jangan berkecil .hati oliversku sayang.... Bukan istri pelaut aja kok yg tiap hari Gдւдυ kalo ditinggal suami. ‎​​​Ήέέ •• Ήέέ •• Ήέέ •• Semua itu tergantung kita ოαυ gimana menjalaninya. Kalo dibuat berat ソソªªªª pasti terasa berat. Orang ϑ¡ bikin enjoy ªăjjªªª masih terasa berat, hihihi.... Gдւдυ sih έmªπġ, tp galaunya ϑ¡ kurangin dg banyak bersyukur ªăjjªªª. (^Ő^)/ ŐĶĂŶ...., olivers.... Kalo buat aku sich, jadi istri pelaut itu biasa aja. Tp menjadi istrinya, tepatnya menjadi istri Mas Wahyu Setiyo Aji Cahyono itu.... LUAR BIASA. Subhanallah.. Alhamdulillah.. #semoga_bermanfaat yaaa :) :*

Jumat, 22 November 2013

Untukmu, Olive Muda Part 2

Untukmu, Olive Muda Part 2 Jadi intinya para olive muda... Mulai sekarang, coba pikirkan baik2, tanyakan pada dirimu sendiri, apa aku kuat mjd istri seorang pelaut? apa aku siap.menjalani peran sbg ibu sekaligus ayah untuk anak2ku jika suami pergi berlayar? apa aku kuat menahan rindu hingga berbulan2 bahkan komunikasipun jarang? apa aku kuat mendengar suara sumbang mereka Чǝлƍ sering berbicara negatif ttg profesi ayah anak2ku? apa aku sanggup berjuang sendiri.dalam keadaan susah ϑαπ sakit tanpa dia ϑ¡ sampingku? ϑαπ masih banyak hal Чǝлƍ harus difikirkan Ĺªģ¡ untuk memantapkan diri ϑαπ hati menjadi istri seorang pelaut. Menjalani masa pacaran dengan seorang pelaut memang sangatlah sulit, tidak munafik... Kita sering kali merasa iri, atau sedih jika melihat pasangan2 lain ato sekedar ditanya "mana pacarmu?". ♌•͡˘.˘ •͡♌"◦°◦ºº ĦцüĦ.. rasanya pengen teriakkk maraah2 sekali, :'( Tapi ternyata itu belum apa2 sayang.... Maaf ya sayang ini bukannya menakut2i kalian, para olive muda, tapi untuk sekedar sharing apa yang aku rasakan, ϑαπ mungkin para olive lain јนбα merasakan... Sulitnya masa pacaran ternyata masih belum apa2... Saat sudah menikah banyak sekali hal2 sulit lainnya Чǝлƍ sebelumnya belum реялдн terfikirkan... Tinggal ϑ¡ rumah baru dg sejuta suasana baru, atau bahkan tinggal bersama mertua tanpa.suami kita jika ia sedang layar, ςερεяτι aku saat ini. Pernahkah kalian membayangkan berada ϑ¡ tingkatan ini wahai olive muda?? ‎​​​(•͡˘˛˘ •͡)" Ħ​ęëємM♏◦°◦ºº‎ ◦°◦ºº rasanya nikmat sekali.... :) Belum ㄴαgเ้ dg sejuta permasalahan2 yang seharusnya kita selesaikan berdua dg suami, tapi harus kita hadapi sendiri... Momen2 penting Чǝлƍ seharusnya kita bagi dengan suami, pun kita melewatinya seorang diri... Ketika hamil, ketika anak kita lahir, ketika sakit, ketika lebaran, maupun liburan... Harus rela dijalani tanpa kehadiran sosoknya Чǝлƍ kita nanti... Juga ketika si kecil memanggil2 ayahnya dan bertanya "Καραη ayah pulang bu?" Atau bahkan ketika si kecil tak menjawab jika ditanya orang, "dimana.ayahmu?" Suatu hal Чǝлƍ paling mengharukan sekaligus menyedihkan bagi kita untuk sekedar menjelaskannya... Pernahkah kalian membayangkan semua itu wahai adik2ku? Bayangkanlah... lalu tanyakan dalam hati pada dirimu sendiri. Apa aku sanggup melewati tahapan2 itu? Sebelum kalian melangkah terlalu dalam... sebelum semua terlambat ƙαц sadari.... Tapi semua itu berhasil aku lewati... tentunya dengan perjuangan... mampertahankan kesetiaan, memperbanyak kesabaran, menambah kepercayaan ϑαπ kasih sayang, ϑαπ tentunya.... doa setiap hari sepanjang malam..... Semoga dia jodohmu, sayang! Semoga memang dia pemilik tulang rusuk itu... ϑαπ jika memang kamu Чǝлƍ menjadi pendamping hidupnya, bahagialah menjadi istrinya, setialah padanya apapun profesinya..... Karna sesungguhnya, semua itu dia lakukan untuk.kebahagiaan kita ϑαπ anak2 kita... Dan, smua telah tergaris dalam suatu skenario ілձдн-NYA... SUBHANALLAH....

Senin, 21 Oktober 2013

Siapapun dia, Aku tetap akan mencintainya..

Profesi pelaut bukanlah alasan aku mencintainya. Dulu, saat aku mengenalnya, tepatnya 2 bulan sebelum pernikahan itu, aku belum tau siapa dia. Bahkan profesinya sbg pelaut pun, aku benar2 tak mengetahuinya. Tp aku tak memandang smua itu, aku tetap mencintainya. Sampai aku tau bahwa aku harus siap mjd wanita "tidak biasa" menghadapi profesinya. Pelaut. Profesi itu sebenarnya tak jauh beda dengan profesi lainnya. Tak lebih berharga, tak lebih istimewa. Semua pekerjaan yg halal pasti berharga dan istimewa. Harus banyak bersyukur dg profesi suami kita. Di luar sana banyak sekali yg lebih galau di banding kita karna jauh dari suami. Kurangi lah keluhan... Dan coba bayangkan... Para persit, istri para tentara, mereka jauh lebih sulit bertemu belahan jiwanya. Suaminya entah ada dimana, dan kadang pulang pun hanya tinggal nama. Para istri tukang becak. Mereka benar2 bergantung pada nafkah suaminya. Tp pada saat pulang, kadang sedikit sekali rupiah yg keluar dari kantong lusuhnya. Para istri suami yg lumpuh. Mereka harus berjuang sendirian menafkahi keluarganya. Sambil terus menangis mengingat sakit yg di derita suaminya.. Dan masih banyak lg yg lainnya... Bukankah kita ini wanita yg beruntung? Mempunyai suami yg sehat, yg sempurna menjalankan tugasnya sbg laki-laki untuk istri dan anak2nya? Keberuntungan ini yg patut kita syukuri. Dg sangat. Keberuntungan ini bukan untuk pamer dan bangga semata. Keberuntungan ini adalah perjuangan kita. Menjadi istri pelaut ato apapun profesinya, semua membutuhkan perjuangan. Suamiku, tak peduli pangkat jabatan nya apa, tak peduli gajinya sebanyak apa, tak peduli seragamnya bagaimana, aku akan tetap bangga mendampinginya... Bagiku, dia lah yg layak menerimaku sbg istrinya.... I love him... Very much :*

Rabu, 26 Juni 2013

Kalau Popeye di rumah...

Met malem olivers.. Semoga postingan malem ini bermanfaat dan menemani para olivers di sela kerinduan dalam penantian seorang popeye tercinta, hehe. Judulnya curhat kali ya, hhehe.. Oke, gini loh olivers.. Sebagai seorang istri yg berbulan2 berada dalam penantian untuk sang suami, aku biasanya seperti ini, ketika suamiku masih berlayar, aku slalu berkeinginan, berandai-andai gini, Seandainya nanti suamiku udah pulang, aku pengen jalan2 liburan ber2 yg jauh, melepas kangen.. Seandainya nanti suami udah pulang, aku pengen wisata kuliner, memanjakan dia dg makanan2 favoritnya. Seandainya nanti suamiku pulang, aku ingin melakukan ini, melakukan itu.... Dan lain lain lain sebagai bagainya.. Tapi, setelah ia pulang, ga tau kenapa, semua keinginan itu seakan terhapus oleh kehadiran sosoknya yg amat merindukan. Seakan pikiranku ganti seperti ini. Ah, tak perlulah aku keliling dunia, asalkan kau di sampingku... Haha.. Emang lebhay c kedengerannya, tp bener lho... Yg aku rasain sih. Ga tau ya kalo olive2 yg lain, hehehe.. Rasanya tu, adem, ayem, tentrem kalo popeye ada di rumah. Jadi, keinginan buat liburan, hanimun, melepas kangen di tempat yg romantis de el el itu udah ga penting lagi. Orang dia udah di depan mata aja senengnya udah minta ampun. Dia sehari 24 jam, seminggu 7 hari, sebulan 4 minggu, full ada buat aku dan anakku aja udah bahagianya tak terkira lhoo.. Jadi buat apa menginginkan liburan hanimun yg super wah itu. Kadang sesekali emang pernah sih, yaa aku anggap itu bonus yg luar biasaaa.. Keinginan buat manjain lidah suami di tempat2 makan kesukaan suami pun jg udah ga penting lagi. Kenapa coba? Orang suami aja bilang dia paling kangen sama masakan istrinya. Jd dia pengen lidahnya dimanjain setiap hari sama masakanku. Yaa meskipun aku kelimpungan kalo kehabisan resep. Hahaha, tapi sungguh, semua itu bahagianya lebih tak terkira lho.. Hmmm... Jd intinya, kalo suami di rumah setelah berlayar sekian lama itu bahagia sekali. Liburan di luar rumah untuk melepas kangen pun bahagia sekali. Tapi lebih bahagia lg kalo ternyata suamiku lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah bersamaku dan si kecil.. Jadi seakan penantian berbulan-bulan dan perjuangan kita menjadi single parent temporary itu terbayar dg adanya dia slalu di rumah ini. Ah, menyenangkan sekali menjadi istri seorang pelaut... :) :) ;)

Minggu, 02 Juni 2013

Kami Istri Pelaut!

Olivers.. Pengen berbagi cerita nich.. Q inget banget suatu kejadian. Dimana hatiku benar2 tesakiti oleh seorang wanita. Ia adl seorang istri dan ibu dari 2 orang anak. Bisa di bilang, hidupnya penuh dg kebersamaan dari orang2 tercintanya. Suaminya. Juga 2 buah hatinya. Jika ia pergi kemana-mana, bisa dipastikan ada suami di sampingnya. Selalu diantar kemanapun ia minta. Tidak manja sebenarnya. Tp agak manja dibilangnya. Sempat iri juga aku dibuatnya. Tapi, suatu hari aku dibuat menangis oleh wanita itu. Beberapa tahun lalu, suamiku memintaku menyusul ke Tanjung Priok, ia mengajakku berlayar untuk yg pertama kalinya. Maklum, aku belum pernah ke Tanjung Priok sebelumnya, aku takut, sendirian pula. Keluarga pun tak tega jika aku melakukannya. Aku ingin sekali menemui sang pujaan hati. Tapi aku takut. Aku buta Jakarta. Tapi aku rindu. Rindu suamiku. Teramat sangat ingin bertemu. Saat itu aku bahkan seperti peminta2. Aku minta siapa saja yg bersedia mengantarku ke Jakarta, Pelabuhan Tj. Priok tepatnya. Sebenernya banyak sekali yg bersedia, tapi kebanyakan mereka sudah punya acara. Akhirnya tiba pada pilihan terakhirku. Suami dr wanita itu yg aku harapkan akan mengantarku. Olivers... Wanita itu adalah istri dari kakak iparku. Jadi tepatnya, wanita itu adl kakakku. Bisa di bayangkan kan, betapa dekatnya hubungan kami. Saling berbagi, saling mengingatkan dan menasehati. Aku memohon pada wanita itu agar suaminya diijinkan untuk mengantarku. Menyatukan sepasang suami istri yang dilanda rindu. Tapi ternyata... Wanita itu tak mengijinkan suaminya untuk mengantarku Kecewa memang, tapi tak apa.. Berbagai alasan ia utarakan. Tak apa. Aku bisa menerima alasan2 itu sebenarnya. Tapi yg tak bisa aku lupakan dan terasa sangat menyakitkan. Wanita itu berkata, "Kenapa seperti itu sj minta tolong, itu kan udah resiko kamu jd istri pelaut? Makanya, aku lebih memilih Mas R*di (suaminya) daripada A*i (suamiku), udah suami istri kok tetep aja pisah2, mau ketemu aja susah." Ya Allah, sakit rasanya mendengar semua itu. Lebih sakit lg karna semua itu keluar dari mulut saudariku sendiri. Ya Allah, apa begitu hina menjadi istri seorang pelaut? Apa begitu hina profesi suamiku? Apa aku salah meminta bantuan padanya? Apa aku salah merindukan suamiku dan ingin sekali bertemu? Sampai2 wanita itu berkata sedemikian halus dan sukses menusuk perasaanku. Maka dari itu hai para istri2 yg selalu bisa bertemu suami setiap hari. Bersyukurlah... Bersyukurlah dg sangat.. Karna kami, para wanita yg miskin sekali dg kebersamaan bersama suami, yg harus banyak pengorbanan jika harus bertemu dg suami, yg dilanda kerinduan setiap hari pada suami, yg menangis tiap malam memohon keselamatan untuk suami, pun slalu dan sangat bersyukur meski hanya 1 layar SMS dari suami menyapa kami.. Itulah yg membuat kami menjadi lebih tegar dan kuat. Kami istri pelaut. Istri seseorang yg langkahnya bisa saja beresiko maut. Kerinduan adalah teman kami. Kebersamaan adalah impian kami. Kesetiaan adalah jiwa kami. I love n trust you my popeye. Biarlah orang mau berkata apa. Aku dan kamu akan tetap saling cinta, percaya dan setia selamanya. Berlayarlah.. Tak peduli sejauh mana, karna jarak tak kan mengurangi rasa cinta kita. Tak peduli negara manapun kau singgahi, kau kan tetap selalu di hati. Di pintu rumah ini, aku slalu berharap kau kembali dari rantauan panjang. Memelukku dan mengatakan "aku pulang sayang".