welcome olive ......

jadilah olive yang setia kepada popeye ...

Rabu, 01 Juli 2015

Catatan Dari Bilik Kamar Mesin

Ahh... Selesai sudah pekerjaan ini. Setelah 2 hari aku tidak melihat sinar mentari dan 2 malam aku tak merasakan indahnya gemerlap bintang di atas deru ombak di lautan. Ku ambil handuk kecil yang sudah hitam legam terkena oli untuk sekedar membersihkan keringatku setelah hampir dua hari berada di ruangan bersuhu hampir 40 derajat ini. Ku lepas ear set yang selama 2 hari ini menempel di telinga melindungiku dari bisingnya suara putaran mesin yang memekakkan gendang telinga. Segera ku naiki tangga, ku loncati dua-dua seolah aku sedang berlari menuju kemerdekaan. Iya. Dua hari ini aku berjuang menghadapi ujian pekerjaan di kamar panas dan kotor, di bawah ombang-ambingnya kapal oleh kejamnya ombak. "OVERHOUL". Di situ pula lah 2 hari ini aku berbuka puasa seadanya, menunaikan ibadah sebisanya, demi tetap mengapungnya bongkahan besi ini di tengah lautan, demi keselamatan semua awak kapal, demi sebuah nafkah untuk orang-orang tercinta di rumah sana. . Setengah berlari aku menaiki anak-anak tangga, tak kurasakan lagi lelah ini, tak ku pedulikan suara teman-teman yang menyuruhku berjalan pelan-pelan, karena lalai sedikit saja aku akan terpeleset jatuh ke bawah dan tak tau lagi bagaimana nantinya.... Ahh begitu kejamnya tempat rejekiku berada. . Beberapa tangga sudah ku naiki dan samar ku melihat cahaya mentari. Semakin ku bersemangat ku menuju ke atas untuk sekedar melepas penat. Kuintip dari jendela kamarku, aku bersorak kegirangan, ternyata kapalku sudah mendekati daratan. Ku lihat di kejauhan sana, ada sebentuk pulau seakan tersenyum menyambut kami. Meski pulau tak berpenghuni. Hanya sebuah mercu suar dan penjaganya mungkin. Tak apa. Ku sambar handphone lalu ku berlari lagi, ke atas. Ke tempat paling atas di kapal ini. Berharap sinyal datang menghampiriku. Memberiku kesempatan mendengar suara anak-anak dan istriku. Ahh... Apakabar mereka.... . Di tengah ku berlari ku mendengar tawaran seorang teman untuk segera menuju ke ruang makan. "Bas, ayo buruan, koki masak spesial hari ini, ketupat sama opor ayam kampung...!". Aku hanya melambaikan tangan lalu kulanjutkan perjalananku menuju atas deck. . Ah... Hari ini lebaran. Sampai tak terasa suasana itu. Pasti di rumah sana anak-anak kecewa ayahnya tidak bisa pulang. Pasti istriku sibuk menjelaskan pada mereka kenapa aku tak bisa pulang. Oh, maafkan aku keluargaku... Aku terlalu sibuk dg pekerjaanku... . Sampai juga di tempat teratas di kapal ini. Ku lihat layar handphone ku, tampak sinyal mulai berkedip-kedip meski tak lebih dari dua garis. Tak kurasakan pegalnya tanganku melambai-lambaikan barang yang menjadi satu-satunya pengobat rinduku akan sosok-sosok penyemangat di daratan jauh sana. . Tiiing. Sebuah pesan masuk. Segera ku buka dengan tak sabar setelah kulihat ada nama "istriku" muncul di atas layar. "Selamat berbuka puasa Yah, alhamdulillah ini puasa terakhir, selamat idul fitri juga untuk besok. Mohon maaf lahir batin ya Yah. Baik-baik di sana, semoga lebaran tahun depan kita bisa bersama-sama merayakannya." . Tak terasa genangan air di pelupuk mata ini mengalir begitu saja. Makin rindu aku dengan mereka... . Ku naiki pagar besi tanpa kupedulikan bahwa dibawanya adalah laut lepas yang seakan tiada bertepi. Segera ku tekan nomor di keypad hp yang makin usang ini. 085640708*** Tuuut...tuuut...tuuut.... Ah barangkali istriku sedang sibuk menyiapkan makanan lebaran untuk saudara-saudara di sana. Tidak terjawab. Ku coba lagi. Tuuut...tuuut...tuuut... Tidak terjawab. Aku tak putus asa. Meski kaki ini semakin bergetar menahan keseimbangan badan di atas pagar besi selebar 7cm. Meski keringat mulai bercucuran melihat ketinggian yang berakhir air laut dibawah sana. Ku coba lagi. Sembari membayangkan wajah istri dan anak-anakku yang berseri-seri kegirangan mendapati telpon dari ayahnya di rantauan sana. Tuuut...tuuut...tuuut... Klek. Seperti mau melonjak ke lautan ketika mendengar suara lembut seorang perempuan di kejauhan sana. . "Assalamu'alaikum Yah..." "Wa'alaikumsalam..., selamat lebaran sayang..." "I-iya-a... Ss-aa-mpa-i ma..." "Halo... Halooo... Bun...Bun.. Denger suaraku kan? Halo..." . Tut...tut...tut. ** Kupandangi layar handphone. Dua baris sinyal yang tadi berbaris kini hilang. Aku berkata lirih, "Ayah sampai perairan pulau Halmahera Utara Bun, Selamat lebaran, maaf Ayah selalu tak bisa pulang di saat-saat yang menyenangkan." . "Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... Laa ilaha illallahu allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamdu..." . Aku bertakbir lirih sembari berjalan pelan menuruni anak tangga. Air mataku tak kuasa mengalir deras membasahi wajahku yang teramat kusam karena belum mandi entah sejak kapan. Dalam hati aku bersyukur pada Tuhan atas keselamatan dan kesehatan yang masih senantiasa Ia berikan. Masih Ia berikan aku kawan-kawan senasib seperjuangan yang menungguku menikmati ketupat dan opor ayam di ruang makan. * Ku habiskan hari ini bersama teman seperjuangan di atas gemuruhnya suara lautan. Mencoba menghibur diri atas rinduku pada mereka di jauh sana. Aku sadar, bukan hanya aku saja yang tersiksa rindu lebaran bersama keluarga, tetapi di sini, setidaknya ada 23 orang yang juga merasakannya. . Inilah catatanku. Catatan seorang laki-laki yang selalu tega meninggalkan keluarga demi cita-cita. Seorang laki-laki yang rela melewatkan segala momen indah bersama keluarga demi kebahagiaan bersama. . Semoga kebahagiaan itu segera ku raih dan ku bawa pulang untuk kalian. Agar kita tak perlu lagi terpisah beribu mil dalam waktu yang amat panjang. . Selamat hari lebaran. KM. Sombar, Halmahera, Agustus 2014. . Dari aku pelautmu yang kau nantikan cepat pulang. ** (Spesial untuk saudari2ku senasib yang lebaran ini suaminya tidak bisa pulang. Jangan bersedih hati, ketahuilah, di jauh sana suami kita pun sedang berjuang bekerja mempertaruhkan nyawa demi kebahagiaan kita. Pun berjuang menahan rindu akan suasana lebaran bersama keluarga. Peluklah ia dengan doa. Agar ia selalu pulang dengan selamat, membawa rizki yang halal dan barokah untuk kita. Aamiin.)

Jumat, 10 April 2015

Curahan Hati Anak Pelaut

Kata Ibu, Ayah adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Meski aku belum mengerti, tapi aku tau, Ayah itu orang yang hebat. Aku bahagia jika di dekatnya. Aku bahagia jika ia memelukku, memeluk adikku dan tentu saja aku bahagia saat ia memeluk Ibuku. Tak pernah ada waktu yang sia-sia jika Ayah selalu bersama kami. Tapi sekarang aku mulai gelisah. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak bertemu Ayah. Pernah aku bertanya pada Ibu, dimana Ayah? Dengan tersenyum dan semangat ia bercerita bahwa Ayah sedang bekerja mencari nafkah. Aku tak paham. Ingin sekali aku meminta Ibu mengantarkanku bertemu Ayah. Tapi aku tau. Setiap aku meminta hal itu, Ibu selalu menyembunyikan kesedihan di balik senyuman. Aku ingat sekali. Saat itu. Saat aku terakhir kali bersama Ayah. Kata Ibu, hari itu kami harus mengantar Ayah untuk berangkat kerja. Aku tak mengerti kenapa Ayah membawa tas besar yang didalamnya banyak sekali pakaian. Aku bertanya lagi, kali ini pada Ayah. Kata Ayah, Ayah akan lama pulang ke rumah. Ah... Aku tak juga paham. Yang jelas hari itu, aku senang sekali bisa bersama - sama mereka, naik mobil, jalan-jalan bersama. Dan ketika sampai di suatu tempat yang banyak sekali orang-orang ber-tas besar, Ayah turun, menciumi kami, memberi pesan, mengucap salam, lalu pergi dengan lambaian tangan. Aku ingat saat itu Ayah berkata padaku. Bahwa aku tidak boleh nakal, nurut sama Ibu dan jaga kesehatan. Aku hanya mengangguk meski tak paham. Yang aku lakukan saat itu adalah merengek minta di gendong Ayah sambil berkata, "Ayo pulang". Aku tak mengerti mengapa Ayah tak mau ku ajak pulang. Ayah malah pergi sampai saat ini belum juga kembali. Saat ini aku ingin sekali berjumpa dengan Ayahku. Entah... Apa ini yang dinamakan rindu? Hanya pelukan Ibu yang mampu meredakan keinginanku. Ayahku adalah seorang pelaut. Begitu kata Ibu. Ia bercerita bahwa Ayah bekerja di laut. Laut biru dg ombak bergulung-gulung seperti yang aku gambar beberapa hari yang lalu. Aku jadi berfikir, betapa beraninya Ayah bekerja di tempat seperti itu. Ayah.. Meski aku belum paham apa yang sedang engkau lakukan saat ini, tapi aku yakin, kau lakukan semua itu untuk kami. Ayah.. Meski aku belum paham mengapa kita berpisah, tapi aku yakin kau pun sebenarnya tak ingin berpisah. Ayah.. Ingin sekali aku memberitau Ibu bahwa aku merindukanmu. Tapi aku tak ingin membuat Ibu sedih karena rasa rinduku. Ayah.. Ingin sekali aku bercerita padamu, tentang Adik yang sudah makin tumbuh pintar. Tentang aku yang sudah bisa membantu Ibu. Juga tentang Ibu yang setiap malam memandangi fotomu. Ayah. Aku kira, semuanya merindukanmu. Tapi mungkin hanya aku yang tak bisa menahannya. Maafkan aku Yah... Tenang saja, hari ini, besok dan seterusnya, aku akan berusaha bertahan dengan rindu ini. Tapi jika boleh aku meminta 1 hal padamu Ayah... Aku ingin engkau cepat pulang. Aku tak inginkan apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Aku hampir lupa rasanya memelukmu. Dan parahnya, aku pun hampir lupa raut wajahmu. Maafkan aku Yah. Aku begitu merindukanmu...

Kamis, 28 Agustus 2014

Untukmu Olive Muda (Part 3)

"Wah... Pelaut... Uangnya pasti banyak.nih..." Sering kali aku mendengar komentar2 itu tiap kali mereka tau profesi suamiku. Aku hanya tersenyum dan meng-aamiin-i kata2 mereka. Banyak dan berkah. Aamiin... Olive2 junior... Sedikit gambaran tentang profesi calon pendampingmu ini... Bagi olive senior, aku yakin, kalian pasti lebih tau tentang ini... Sering suamiku berkata, "mencari yang berkah untuk pelaut itu susah." Semula aku tak tau maksudnya sebelum aku tau sistem kerja dikapal itu seperti apa... Ada salah 1 saudara dari mertua yang berprofesi sbg pelaut. Pelaut yang sukses begitu mertuaku menyebutnya. Sering kali suamiku disuruh untuk "berguru" padanya, mencontoh kiat2 suksesnya... Tapi suamiku selalu menolaknya. Aku tau, harapan orangtua suamiku pasti tak lain agar anaknya bisa lebih baik kehidupannya. Tak ada yang salah memang. Tapi menurut kami, prosesnya lah yang salah.. Keliru, dan sangat bertentangan dengan hati nurani kami... Untuk ukuran pelaut ber-ijazah 2 dengan kehidupan dunia yang sederhana seperti kami, sering sekali menuai tawa dan cerca bagi teman2 seprofesi suamiku... Tak masalah, kami sering menghadapinya dengan senyum... Kami cukup dengan semua ini asal itu berkah buat kami dan anak2 kami. Jadi, engkau para olive muda... Jika kau berkenan mendampingi seorang pelaut dan siap setia padanya, jadilah pendamping yang selalu rajin mengingatkan keberkahan rejeki yang dihasilkannya. Buang jauh2 mimpi bergelimang harta karna profesinya, jika kau tak tau bagaimana cara dia mendapatkannya. Banyak tawaran menggiurkan baginya untuk mendapatkan hasil lebih dari seharusnya, tapi ingat, itu hanya godaan duniawi saja. Aku yakin rejeki yang Tuhan berikan untuknya adalah yang seharusnya, jadi tak perlu lah mengambil yang bukan hak kita. Katakan itu berkali2 jika kelak suami kita tergoda untuk mencari hasil tambahan yang bukan seharusnya. Tak ada tujuan apa2 wahai olive muda, semua itu demi keberkahan keluarga kita nantinya. Hina dan cerca sering kali datang pada kami yang menganut prinsip ini. Katanya kami sok alim, sok suci... Tapi kami hanya tersenyum. Kami bukannya sok alim dan sok suci. Tapi setidaknya kami ingin sekali menjadi alim dan mendekati suci. Dan kami ingin berbagi dan mengingatkan ini.pada kalian... Tidak ada salahnya kan? Godaan pelaut itu tidak selalu pada kesetiaannya terhadap pasangan, tidak melulu pada wanita2 penggoda seperti orang2 bilang, tapi bahkan harta dan kedudukan lah penggoda utama. Bagi mereka yang tak tau apapun tentang pelaut, sering kali berasumsi bahwa bagi pelaut jalan menjadi kaya sangat mudah, bagi istri pelaut bermanjaan dengan fasilitas mewah sangat mudah. Hmmm... Aku cukup tersenyum saja. Bagiku menjadi seperti itu hanyalah bonus semata, yang paling utama... Berkah bagi keluarga. Olive muda... Mari belajar saling mengingatkan. Agar kita menjadi pendamping yang baik untuk popeye kita. Salah 1 nya dengan terus mengingatkannya agar ia jauh dari godaan harta yang bukan seharusnya. Aku yakin kalian pasti penasaran dengan sebutan "harta yg bukan seharusnya". Cobalah sedikit2 bertanya tentang itu pada popeyemu. Tentang kehidupan kapal yang sebenarnya. Tanyalah apa itu "kecing-an". Tanyalah apa ia sanggup menjauhi hal2 seperti itu. Tanyalah apa ia sanggup menghidupi keluargamu hanya dengan "harta yang seharusnya". Aku pun sama. Sedang selalu bertanya seperti itu pada popeyeku. Dan jika popeye kita sanggup. Aku yakin, berkah tak kan jauh2 dari kehidupan kita. Bahagia akan selalu mendekati kita. Meski banyak cerca dan hina. Meski banyak kesulitan menghadang kita. Tapi setidaknya kita menjauhi larangan-Nya. Yang akan meringankan perjalanan kita saat di akhirat kelak. Wallahu a'lam bisshawab. Semoga keluarga kita tidak termasuk keluarga yang merugi karna kelalaian kita untuk mengingatkan suami kita dalam mencari rizki barokah untuk keluarga. Aamiin... Orang bilang jadi pelaut gampang kaya. Orang bilang jadi istri pelaut bergelimang harta. Orang bilang bla... bla... bla... Semua itu memang impian manusiawi kita. Tapi yang utama... Keberkahan hidup berumah tangga bersama seorang pelaut lah yang menjadi cita-cita kita. Be smart Olivers... Be smart wife for your beloved husband... Kita pasti bisa...!!! Keep faith n be strong :*

Senin, 28 April 2014

Sedikit Cerita Dari Pelautku

Sebelumnya, saya pribadi mengucapkan prihatin dan duka yang sangat mendalam atas meninggalnya salah satu calon perwira pelayaran dari STIP, alm. Dimas Dickita Handoko, yang wafat terbunuh oleh senior2nya sendiri. Semoga beliau ditempatkan disisi-Nya, dan diberikan ketabahan bagi mereka yang ditinggalkan. Astaghfirullahaladziim... Sungguh miris sekali mendengar kabar itu. Berangkat untuk meraih cita-cita, tapi pulang hanya tinggal nama. Berharap lulus menjadi perwira laut sejati, tapi pulang dengan peti mati. Sungguh biadabkah pendidikan para calon pelaut ini? Betapa malu, miris, iba, tidak terima dan lain sebagainya... Yang aku rasakan ketika banyak orang memandang sekolah2 seperti ini tidak bermoral. Sekolah yang didalamnya hanya terdapat siswa yang gila hormat, gila pangkat, atau apapun mereka menyebutnya. Sebenarnya, semua siswa? Atau sebagiannya? Itu yang harus mereka tau sebelumnya.. Sekolah pelayaran. Sekolah berbasis semi militer. Aku pun kurang begitu tau persis bagaimana sistem didalamnya. Tapi aku yakin, setiap institusi pendidikan pasti tidak ada niat untuk mencelakakan anak didiknya. Tujuan diterapkannya "semi militer" itu pun, pasti ada tujuannya. Mengingat profesi yang harus diemban mereka para alumni, atau para perwira yang begitu membutuhkan nyali besar setelahnya. Hanya saja, mungkin sebagian siswa yang mengartikannya berbeda. Menjadikan basis pendidikan itu sebagai alasan bagi mereka untuk "menyiksa" junior2nya. Ahh sayang sekali... Melihat peristiwa2 seperti itu, aku jadi ingat cerita suamiku. Cerita yang cukup membuatku mengerti bahwa tidak mudah baginya menjadi seperti sekarang ini. Menjadi seorang pelaut yang kadang banyak asumsi "negatif" dari orang-orang itu. Hanya ingin berbagi. Terutama bagi kalian yang masih mempunyai "asumsi2" itu... Bersekolah di pelayaran sebenarnya tidak jauh beda suka dukanya dengan bersekolah di institusi2 lain. Harus rajin, harus disiplin, harus mampu bersaing dengan kawan lawannya. Jarang ada libur, tugas menumpuk, ditambah pula suasana jenuh diasrama. Sedikit bedanya mungkin basis ke-semi-militeran-nya itu. Menjadikan rasa takut dan was-was ketika bertatapan dengan senior, dan bahkan di luar area kampus. Kata suamiku, dulu setiap dia mau pulang kampung, harus "mampir" dulu ke kos seniornya untuk menikmati "hidangan" spesial. Entah itu tonjokan, tamparan, atau hidangan yang lainnya. Katanya itu tradisi. Siapa bilang? Tradisi yang hanya mereka yang menjalankannya. Ya, alhamdulillah... Suamiku masih diberikan perlindungan untuk lolos dari bermacam hidangan itu, dan diberi keimanan yang kuat untuk tidak menjalankan tradisi itu ketika ia menjadi senior. Aku tau dan sangat yakin itu. Dan membuatku sangat yakin bahwa hanya mereka yang tidak bermoral-lah yang menjalankan tradisi itu. Aku sangat yakin, bukan seperti itu pendidikan militer yang guru ajarkan di institusi tsb. Perjuangan2 telah ia lalui demi sebuah cita2. Aku tidak bisa membayangkan apalagi merasakan saat pertama ia melawan ombak. Berlayar pertama kali saat ia mengerjakan proyek laut (prola) dengan berbagai laporan "tulis tangan" yang tebalnya melebihi naskah ASKEB ku. Dulu aku mengerjakannya di meja atau ruangan yang enak. Tapi ia mengerjakannya di tengah2 gelombang di atas lautan yang seakan tak bertepi. Tapi alhamdulillah... Dia bersyukur bisa melaluinya. Masih adakah yang ingin berpendapat sekolah.pelayaran adalah sekolahnya para penggila pangkat? Semua tau. Bahwa setiap kesuksesan itu tak kan luput dari perjuangan. Aku bisa melihat hasil perjuangan itu dengan.memandang foto suamiku berseragam wisuda didampingi orang tuanya, 13 tahun silam. Walaupun aku belum ada disisinya, tapi aku bisa merasakan degup kegembiraan itu sekarang. Akhirnya sampailah ia pada cita2 menjadi seorang pelaut. Waktu berlalu sampai ia melangkah ke "dunia" berikutnya. Menyandang gelar perwira, ia tekadkan niat untuk mulai bekerja. Mencari nafkah untuk orang tua yang telah menggadaikan kebahagiaan demi cita2 anaknya. Ia sangat ingin mengembalikan "kebahagiaan2" yang tertunda gara2nya, meskipun tak seberapa. Niat yang begitu mulia. Dan niat mulia itu pun kembali harus di uji oleh-Nya... Sekitar tahun 2000-an. Pelayaran pertama suamiku. Line Surabaya-Belawan (Medan). Harus dilalui dengan pengalaman yang tak kan terlupakan. Kapalnya dibajak oleh sekelompok anggota GAM. Terjadi penyanderaan dan berujung tindak kekerasan. Pasukan bersenjata GAM itu merampas habis "harta" kapal dan menyandera sang kapten. Beruntung penyelamatan datang meski tak ada barang berharga yang tersisa sekalipun itu surat2 dan ijazah. Tak berarti apa. Yang paling berharga saat itu adalah nyawa. Syukur alhamdulillaaaah. Allah pun masih melindungi suamiku dan rekan2nya, meski menyisakan besarnya trauma. Suamiku pulang tanpa barang apapun yang dibawanya kecuali pakaian yang saat itu dikenakannya. Ia di "kembalikan" kepadakeluarganya oleh dinas perhubungan setempat. Syukur tiada tara ia ucapkan saat ia kembali bertemu keluarga dlm keadaan selamat. Pelayaran pertama yang menyisakan trauma... Tapi ia tak kan larut dalam trauma itu. Ia berfikir, semua itu adalah ujian. Kalau ia berhenti, maka sia2lah perjuangannya selama ini. Dan seiring berjalannya waktu, trauma itu berhasil ia taklukkan dg tekad yang bulat untuk meraih sukses dari perjuangan yang telah ia lalui. Sesekali trauma itu datang menggoda, ia tepis dengan membayangkan cita2nya. Aku tau, cita2nya hanya ingin menjadi imam yang bertanggung jawab bagi keluarganya. Bagi kami. Ia ingin menjadi pelaut yang hebat di mata anak istrinya. Di mata kami. Aku tau itu. Dia sudah menjadi imam yang hebat di mataku. Perjuangannya menjadi tulang punggung kami, lebih besar daripada perjuangannya menikmati "hidangan" senior2nya dulu pasti. Aku tau. Meskipun dia dididik sekeras besi, tapi ia kan selalu mengajar dengan hati pada anak2 kami. Biarlah jika hanya aku yang tau perjuanganmu ini, jangan berkecil hati menjalani profesimu ini. Doa dan smangat takkan berhenti untukmu, pelautku. Kesabaranku menunggu kepulanganmu adalah bukti kesetiaanku padamu. Dan perjuanganku menggapai surga-Nya. Aamiin. Dan masihkah ada yang ingin berpendapat pelaut itu profesi yang gila pangkat? Aku hanya akan tersenyum dan mendoakan yang telah berpendapat. (^v^)

Minggu, 13 April 2014

Rindu Seorang Pelaut

Setelah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter yang memakan waktu setengah hari... Menembus hutan dengan menumpang truk angkutan kayu, sampailah pada sebuah perkampungan... Dan akhirnya suamiku DAPAT SIGNAAALLLL...!!! Alhamdulillaahirrobbil 'alamiin.... Kau kabulkan doaku Ya Rabb... Doa kami semua. Suamiku msh diberi selamat, sehat meski dlm keadaan yg begitu sulit. Kapal "Sombar" nya sedang berada di laut tengah hutan dibalik bukit yang amat tinggi. Kapalnya tidak bisa berlabuh jangkar karena kedalaman laut yang tinggi, dan tidak adanya tenaga darat untuk membantunya. Padahal kayu yang akan dimuat adalah jenis kayu tenggelam yang jumlahnya ±400 batang. Muat pun hanya mengandalkan cuaca. Kapal yang tak bisa sandar itu semoga saja bisa diam dalam hantaman gelombang. Berharap angin besar tak kan menghampirinya. Saat ini baru 200 an kayu yang berhasil di muat di kapalnya. Itupun per-kayu harus dipakaikan pelampung. Setiap harinya hanya 10 kayu yang berhasil di muat. Jadi harus berapa banyak hari lagi yang dihabiskan kru "Sombar" di pedalaman Halmahera itu? Kata suamiku, ia terpaksa "mencari" signal untuk melapor ke perusahaan bahwa bahan bakar tinggal seminggu lagi. Mustahil jika harus menunggu selesainya muat kayu tsb. Ohhhh.... Betapa susahnya pekerjaanmu Yah... Belum lagi, persediaan logistik yang semakin menipis. Dan harus menempuh perjalanan 1 hari jika ingin bertemu pasar. Karena suamiku tidak berani memancing (mitos kalau istri lg hamil tdk boleh mancing), dan jika ia sungkan ikut memakan hasil pancingan anak2 buahnya, ia setiap hari hanya makan nasi putih dan telur rebus. Katanya piringnya tak ada warna lain selain putih.... Geli, tapi miris juga mendengarnya... Pun dia katanya ingin sekali mendengar suara anaknya... Ingin bertanya padaku ttg perkembangan si kecil didalam perut... Ia rela menempuh perjalanan jauh itu demi mendapatkan sinyal. Sedang asyiknya kami bertukar cerita, melepas rindu, truk kayu pun membunyikan klakson memberikan tanda bahwa akan berangkat ke dermaga tengah hutan itu (lagi). Huh... Kata siapa jadi pelaut itu enak hanya karna memandang gajinya? Jangan jadikan semua itu menjadi kesombongan semata. Semua profesi pasti ada resikonya. Janganlah berbangga hati menjadi istri pelaut tanpa mengerti segala perjuangan suami di tengah laut sana. Berat sekali rasanya menutup telepon. Tapi segera ku tepis dengan menyemengatinya meski hanya dg kata2. Tak lupa ia minta doa, agar segera bisa menyelesaikan misi ini dan pulang tepat pada waktunya. Itu pasti sayang. Doa itu tak kan pernah lalai aku panjatkan disetiap sujudku. Selamat berjuang lagi sayang. Semoga Allah selalu menyertaimu, sampai tali jangkarmu terikat kuat di pintu dermaga. Sampai kau berdiri dg senyuman di ujung pintu rumah kita. Aamiin...

Sabtu, 01 Februari 2014

Ketika Rindu Kita Tak Lebih Penting

Hmm... Suami berangkat layar lagi. Nunggu lagi. Galau lagi. Sepi lagi. Daaan.... rindu lagi. Begitulah, yang selalu aku rasakan setiap kali suami berangkat layar. Membesarkan hati untuk menjalani kehidupan sendiri. Tapi ternyata, mulai tahun ini, aku tidak begitu mempersoalkan rindu itu. Dan baru kali ini, rinduku pun menjadi nomor dua, tiga, empat, lima..... Atau pun nomor yang kesekian. Ternyata sekarang, ada yang lebih merindukannya. Ada yang lebih peka terhadap ketidakhadirannya. Semua itu terjadi karena adanya dia.. Buah cinta kami berdua. Dia yang masih kecil itu, ternyata hatinya lebih peka terhadap ayahnya. Dia yang baru saja akrab dengan wangi tubuh ayahnya, ternyata menyimpan sebuah pertanyaan besar dalam pikirannya... Dimana ayah? Kemana ayah? Aku mau didekat ayah... Memang semua itu tak terucap. Tapi aku dapat merasakannya.. Danish kecilku. Bertemu ayahnya saat usia 5 bulan, dan kembali ditinggal saat usia 1 tahun. Saat dia mulai terbiasa dg peluk cium ayahnya. Sekarang harus terbiasa dg ke"tiadaan" itu untuk sementara waktu. Rinduku sekarang jadi nomor kesekian.. Rindu yang semula menyiksa batin dan raga itu, serasa lebih ringan kurasa ketika melihat si kecil juga ikut merasakannya. Rasa ingin bertemu yang menggebu-gebu itu sekarang berubah menjadi ingin segera mempertemukannya dengan anak kami. Segala angan-angan untuk ini itu setelah dia kembali nanti, seakan tak penting asal peluk ciumnya sudah kembali lagi untuk si kecil buah hati kami. Kebiasaan menangis tiap malam ketika merindukannya, memang amatlah menyakitkan... Tapi ternyata lebih menyakitkan melihat si kecil memeluk dan menciumi foto ayahnya tiap kali melihat figura yang terpajang rapi di meja. Sedih memang saat berhari-hari tak bisa menghubunginya karna sinyal yang tak bersahabat. Tapi ternyata lebih sedih ketika dia memanggil "ayah" setiap tangis dan ratapnya yang menyayat. Dan memang senang bukan kepalang ketika ada pesan masuk bertuliskan "I miss u honey". Tapi sekarang lebih senang lagi jika ada pesan masuk berisikan, "baik2 disana bersama anak kita". Tak jarang, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk mamaksamu tetap menghubungiku. Sering sekali, rasa rindu itu menjadikan egoisku untuk memaksamu cepat pulang memelukku. Menjadi kewajiban, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk marah-marah padamu saat berkali-kali mengundur kepulanganmu. Aku baru mengerti sekarang. Kau mengajariku bersikap dewasa dimasa yang nanti akan lebih sulit dari masa itu. Sekarang aku baru paham, rindu2 yg membuat egoisku itu, benar-benar tak lebih penting dari menjaga fikiran dan perasaan si kecil yang belum tau apa-apa itu. Sekarang dan masa-masa yang akan datang, aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah kesabaran dalam memahami rindu anak-anakku dg ayahnya. Aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah ketegaran dihadapan anak-anakku yang juga dilanda rindu dengan ayahnya. Dan penantian ini tak kan berarti tanpa akhirnya aku melihat mereka berpelukan di ujung pintu ini. Menjawabkan pertanyaan si kecil, "kemana sosok yang selalu memanjakanku, kenapa tiba-tiba tak ada dirumahku, kenapa tak menyahut ketika ku memanggilnya.... Jawaban itu kan ia temukan saat kembali memeluk ayahnya tercinta.. Suatu hari nanti. Itu pasti. Sabar ya anakku sayang. Kita tunggu ayah disini dengan banyak mendoakannya malam ataupun siang. Ayah pasti pulang.. Ayah pasti pulang..! Ayah pasti pulang..!!! Memeluk kita lagi dengan penuh kasih sayang. (◦ˆ⌣ˆ◦)•.♥.•

Senin, 09 Desember 2013

Jadi Istri Pelaut??? So What??

Suatu ketika ϑαπ setiap kali, ăϑα̲ orang bertanya padaku? "Suaminya кеяرд dimana?" Jawabku pasti, "لαυн... ϑ¡ laut...". Dan lanjut si penanya, "Wah... Pelaut ソソªªªª?, duuuh....". Aku cuman senyum2 ªăjjªªª... Meskipun dalam hati sebenarnya aku bertanya, "έmªπġ kenapa kalo suamiku pelaut?". Ǥǎ̜̣̍ƙ тдυ ソソªªªª apa Чǝлƍ ăϑα̲ ϑ¡ pikiran orang kalo denger profesi seorang pelaut... Perasaan biasa ªăjjªªª dech jadi istri pelaut.. Bakal ditinggal lama? Ǥǎ̜̣̍ƙ istri pelaut ªăjjªªª ќôǤ... Noh, istri para tentara, mereka pun bakal ditinggal lama oleh suaminya karna tugas negra... Istri para ulama, mereka pun ditinggal lama untuk.melaksanakan kurudz, bahkan sampai ke negara2 لαυн untuk menyebarkan ilmu agama... Atau istri para TKI, itu јนбα bakalan lama ditinggal suaminya kan? Hmm... ϑαπ masih banyak ㄴαgเ้ para istri yang lama tidak bertemu dg suami tercinta... So what??? Kita ga usah terlalu Gдւдυ dg pikiran orang2 itu. Kita јนбα Ǥǎ̜̣̍ƙ usah terlalu lebhay bersedihnya kalo Ĺªģ¡ kangen abis sama si popeye. (Meskipun q kadang ğî†ΰ јนбα sihhh, :P ) Jadi istri pelaut suka makan ati kalo kangen tp Ǥǎ̜̣̍ƙ Ъϊśå komunikasi? Betul έmªπġ. ☀Ъ膆ћµ Ĺ••=)) ••Ъ膆ћµ Ĺ ••\=D/ ••Ъ膆ћµ Ĺ• • ♣:D☀ Tapi sebelum kita menyanggupi untuk berdampingan dg nya, bukankah kita udah тдυ berbagai konsekuensinya? Чǝлƍ namanya ϑ¡ laut juga pasti Ǥǎ̜̣̍ƙ ăϑα̲ sinyal olivers... jαδι ოαυ makan ati sampe kapan? Нĭ°°~нĭ°°~нĭ ~°°нĭ~°°. Ǥǎ̜̣̍ƙ kita ªăjjªªª kok yg menganggap sinyal itu barang berharga bak intan berlian. Banyak mereka2 Чǝлƍ реηφεη sekali bertukar кдвдя dg kekasih hati tp terhalang sinyal. Mereka Чǝлƍ suaminya bertugas ϑ¡ pedalaman, apapun profesinya јนбα susah berkomunikasi dg orang2 tercintanya... Jadi istri pelaut takut ditinggal selingkuh ato tergoda untuk selingkuh??? ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ, kalo ini mah aku ketawain ªăjjªªª, ћϱћϱ....ћϱћϱ‎​‎​ (¬_¬")... Abisnya aneh2 ªăjjªªª sih... Selingkuh itu dosa. Jadi urusannya sama Allah. Чǝлƍ penting kita setia padanya. Masalah profesinya yg rentan dg kejenuhan dlm bekerja ϑαπ jauh dg istri tercinta membuat ia sesekali berpaling dari kita? Hmmm jangan suudzon dehh.. Pekerjaan dikapal itu menguras waktu ϑαπ tenaga lho. Untuk makan ªăjjªªª kadang lupa, apalagi untuk urusan Чǝлƍ begituan? Dan kalo masalah profesi ϑ¡ kait2kan dg perselingkuhan, toh banyak noh suami2 Чǝлƍ kerjanya di darat dan tiap hari ketemu dg istri tetep aja masih pengen selingkuh. Jadi apa profesi itu mempengaruhi? Semua tergantung pribadi masing2 kalo aku rasa... Yg penting kita setia. Urusan dia mau selingkuh ato tidak, itu urusan dia dg Yang Kuasa. Jadi jangan berkecil .hati oliversku sayang.... Bukan istri pelaut aja kok yg tiap hari Gдւдυ kalo ditinggal suami. ‎​​​Ήέέ •• Ήέέ •• Ήέέ •• Semua itu tergantung kita ოαυ gimana menjalaninya. Kalo dibuat berat ソソªªªª pasti terasa berat. Orang ϑ¡ bikin enjoy ªăjjªªª masih terasa berat, hihihi.... Gдւдυ sih έmªπġ, tp galaunya ϑ¡ kurangin dg banyak bersyukur ªăjjªªª. (^Ő^)/ ŐĶĂŶ...., olivers.... Kalo buat aku sich, jadi istri pelaut itu biasa aja. Tp menjadi istrinya, tepatnya menjadi istri Mas Wahyu Setiyo Aji Cahyono itu.... LUAR BIASA. Subhanallah.. Alhamdulillah.. #semoga_bermanfaat yaaa :) :*