welcome olive ......

jadilah olive yang setia kepada popeye ...

Sabtu, 20 Agustus 2016

Coming soon....!!!

Alhamdulillah...
Akhirnya novel perdana saya sebentar lagi terbit 😆😆😆
.
"Diary Istri Seorang Pelaut"
Sebuah kisah perjalanan rumah tangga yang senantiasa terpisah jarak, terhalang waktu dan teruji rindu...
.
Akankah rindu itu selalu bertemu dg pemiliknya? Mampukah mereka bertahan menahan perasaan ingin terus selalu bersama?
.
Temukan jawabannya dalam novel ini. Novel yang ditulis berdasarkan kisah hidup si Penulis bersama sang suami.
.
Novel "DISP" ini ready tgl 9 September 2016 bagi yang ikut Pre Order (PO).
.
PO dibuka tgl 17 Agustus - 9 September 2016. Bagi yang sudah mendaftar dan melakukan pembayaran tepat waktu, novel akan dikirim selambat-lambatnya tgl 15 September 2016.
.
Dapatkan free GoodyBag dan signature Penulis bagi yang ikut PO novel "DISP".
.
Bagi yg tidak ikut PO, nantikan novel "DISP" di toko-toko buku kesayangan anda 😆😆😆

Sabtu, 09 Juli 2016

Kami Bertahan Untuk Cinta

Hangatnya semburat cahaya mentari pagi ini sehangat senyumku yang merekah sedari tadi. Pagi yang indah di hari yang fitri. Aku sedang tersenyum mendekap ponselku sambil menghela nafas lega dan perasaan bahagia. Ku ucap syukur pada Yang Kuasa karena masih melindungi suamiku di rantauan sana. Aku cukup bahagia mendengar suaranya meski hanya sekejap saja. Setidaknya bahagiaku lengkap di hari raya ini saat ku tahu bahwa dia baik-baik saja di sana. Aku tak berharap lebih. Aku tak kan memaksa keadaan menjadi lebih indah dari kenyataan yang ada. Kebersamaan di sini memang  tak kan lengkap tanpa kehadirannya, tetapi aku sangat menyadari bahwa kebahagiaan di sini dapat tercipta berkat perjuangannya di lautan sana.
.
Ini adalah lebaran di tahun ke lima pernikahan kami. Memang belum pernah sekalipun kami dapat merayakannya bersama-sama, tetapi aku sangat bahagia saat menyadari bahwa sebenarnya kami kuat sekali hingga sejauh ini. Aku ingat sekali pada suatu waktu beberapa tahun yang lalu. Ketika penantian ini terasa berat dan sangat menyiksa. Ternyata rasa menderita yang selalu ku rasa itu membawaku menjadi lebih dewasa. Dewasa dalam memahami keadaan. Dewasa dalam menyikapi perpisahan, menghadapi segala ujian, mengobati kerinduan dan menghargai pertemuan.

Aku letakkan ponselku di atas meja ketika anak-anak mulai berteriak memanggilku. Mereka menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Ya, tentu saja tentang keberadaan ayah mereka. Aku bersimpuh di depan mereka, ku tatap wajah mereka satu persatu lalu aku tersenyum. Ku belai rambut mereka dan dengan lembut aku berusaha menjelaskannya. Seperti biasa. Ya, keadaan seperti ini adalah biasa. Hampir setiap hari aku menjelaskan kepada mereka tentang keadaan ini. Dan aku tak pernah bosan melakukannya, membuat mereka sedikit paham dengan apa yang aku katakan.

“Ayah kerja sayang… Kapalnya masih di tengah laut. Kasihan ya Ayah nggak ngrasain lontong opornya Bunda, hihihi… Kita doain aja yuk, biar Ayah baik-baik saja dan cepet pulang deh…”, kataku menghibur anak-anakku yang perlahan-lahan mulai tersenyum setelah cemberut seharian. “Iya Bun… Nanti kalau Ayah pulang Bunda masakin Ayah lontong opor lagi ya Bun…” kata Danish dengan logat cadel diikuti tawa renyah Delish, anak perempuanku. Aku hanya tertawa kecil saat mendengarnya. Dalam hatiku aku benar-benar terharu mendapati anak sekecil ini memahami ketiadaan ayahnya. Ku peluk mereka dengan erat sambil berusaha menahan air mata agar tak merusak kehangatan di hari yang suci ini. Lalu ku ajak anak-anakku menuju ruang makan. Menikmati sajian di hari istimewa ini bersama-sama, ya… Meski hanya bertiga saja.
___

Malam ini aku duduk termenung di sudut kamar. Suasana telah begitu sepi karena anak-anak sudah tertidur pulas setelah seharian menikmati riuh rendah suasana lebaran hari ini. Mataku memandang ke luar jendela yang telah basah oleh rintikan air hujan. Dingin, gelap dan sepi. Tanganku meraih sebuah buku yang tergeletak rapi di ujung meja. Ku usap sampulnya yang sedikit berdebu. Ku buka perlahan dan ku baca pelan-pelan sebentuk kalimat di halaman pertama. “Catatan Istri Seorang Pelaut”. Hmm… Aku tersenyum sendiri dan melanjutkannya pada halaman ke dua. Lalu pada halaman ketiga dan seterusnya. Memoriku melayang seketika pada suatu masa. Masa dimana aku masih merasa bahwa hidupku sangat berat. Setiap saat menghadapi segala ujian hidup semenjak bersamanya.
Di halaman-halaman awal buku kecil itu berkali-kali aku menulis bahwa aku ingin menyerah. Betapa aku tak kuasa menghadapi perpisahan, tak sabar dalam penantian, tersiksa dalam kerinduan. Aku tersenyum geli dan menghela nafas panjang. Lalu aku bersyukur telah berhasil melewati masa-masa sulit itu dan bisa bertahan mendampinginya hingga detik ini. Aku bersyukur masih diberi kekuatan di setiap saat menghadapi perpisahan dengan suamiku. Aku bersyukur masih diberi kesabaran dalam menanti kepulangannya. Pun aku sangat bersyukur masih diberi rasa rindu yang menggelora padanya. Rasa rindu yang selalu ku jaga, rasa rindu yang selalu menambah cintaku padanya.
.
Ku seruput secangkir kopi yang menemaniku terjaga malam ini. Kemudian aku berbalik menatap kedua anakku yang telah tertidur pulas di atas ranjang. Ranjang yang dulu selalu terlihat luas ketika ku berbaring sendiri dengan air mata yang berderaian. Aku memandang wajah kedua anakku dengan perasaan haru. Di satu sisi aku bersyukur bahwa penantian ini tak lagi terasa begitu berat semenjak ada mereka. Rindu yang menggebu itu tak begitu menyiksa semenjak ada tawa mereka. Lalu kebersamaan itu menjadi semakin berharga ketika kami dapat berkumpul bersama meski sedemikian singkatnya. Namun di sisi lain ada sebuah kesedihan yang tak dapat kupungkiri ketika mengetahui anak-anakku pun ikut berjuang menahan rindu pada ayahnya di usia yang sekecil ini. Masa yang seharusnya penuh dengan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Masa yang tak seharusnya ikut merasakan kesedihan saat setiap kali menghadapi perpisahan. Masa dimana mereka seharusnya tak selalu beradaptasi ketika ayahnya pulang. Ya, karena berpisah terlalu lama mereka kadang tak mengenali sosok ayahnya ketika pulang. Ah… Tak terasa air mataku menetes, mengalir deras karena haru akan ketegaran anak-anakku.
.
Ku hapus genangan air mata yang masih tersisa di pelupuk mataku. Dalam hati aku berjanji, agar air mata ini tak terlalu sering mengalir meratapi jalan hidupku yang seperti ini. Aku berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat untuk mereka, anak-anakku. Aku berjanji untuk tetap tegar dan sabar untuk menghadapi ujian bernama perpisahan, kerinduan dan penantian. Karena kekuatanku, ketegaranku dan kesabaranku tak lain dan tak bukan hanyalah untuk mereka, kedua anakku. Aku berjanji sepenuh hati, untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk mereka, dan juga menjadi seorang ayah ketika suamiku tak ada di rumah. Akan ku ubah air mata yang dulu menghiasi hari-hariku menjadi sebuah semangat dalam menghadapi pernikahan yang terpisah jarak ini.
.
Ingin sekali malam ini ku katakan pada suamiku. Bahwa jarak itu bukan penghalang, bahwa waktu itu sama sekali tak mengganggu, bahwa berpisah itu bukan berarti tak indah, bahwa penantian itu tak selalu menyakitkan dan kerinduan adalah sebuah kekuatan. Maka kita tak akan pernah jauh karena jarak, tak akan pernah lekang oleh waktu, tak akan pernah menyerah karena berpisah, cinta kita tak akan pernah mati karena menanti dan kita akan selalu merindu setiap waktu. Kita bertahan karena cinta. Dan cinta itulah yang akan membawa kita pada sebuah pertemuan indah di waktu yang Tuhan tentukan untuk kita. Seperti katamu Suamiku, aku akan selalu bersabar, bersabar dan bersabar. Untuk sebuah kata indah bernama “pertemuan” .
Ku balik halaman terakhir buku ini dan ku ambil pena untuk ku goreskan pada halamannya yang masih kosong. Aku menulis dengan perasaan penuh cinta, denga kekuatan dan ketegaran yang luar biasa untuk suamiku tercinta. Aku menulis sambil sesekali ku pandangi wajahnya yang terbingkai rapi di atas meja.
.
“Suamiku, kekasih hatiku…
Melepasmu itu hal yang biasa. Meski selalu ada air di pelupuk mata.
Aku pun tahu, di hatimu juga tersirat kepiluan setiap kali menghadapi perpisahan.
Apalagi saat kau tatap mata-mata kecil nan sayu itu seolah merengek tak ingin berjauhan denganmu.
Tetapi aku juga tahu, di bahumu terpikul beban yang amat sarat karena sebuah janji bernama kebahagiaan.
Sudah menjadi rumus kehidupan bahwa berpisah itu menyakitkan dan bersama itu menyenangkan.
Tetapi demi masa depan, kebersamaan itu rela kita gadaikan.
Aku selalu berusaha tegar setiap kali melepasmu kembali berjuang di lautan sana. Aku tak sanggup membantu apapun selain hanya doa. Dan kami akan selalu menantimu dengan setia.
.
Berlayarlah…
Tak peduli sejauh mana, tak peduli negara mana kan kau labuhi.
Karena kau kan tetap selalu di hati. Hadir bersama rindu yang setiap saat mengalir dalam pembuluh nadi. Dan pasti kan kembali membawa harapan-harapan kami.
Selamat bekerja Yah…
Sampai nanti…
Sampai bertemu lagi…”
.
Dariku, perempuan yang mengharapmu cepat pulang.

Kamis, 07 Januari 2016

Perjuanganku Tanpamu...

"Pasien nomer 2 sudah hampir lengkap ya Mbak, selalu pantau”, teriak dokter obsgin setelah selesai memeriksaku. Aku tak berhenti merintih bahkan berteriak merasakan luar biasanya sakit di seluruh perutku. Airmata dan keringat bercampur menjadi satu. Entah seperti apa tangan Ibu yang sedari tadi ku genggam dan ku cubit sebagai pelampiasanku menahan sakitnya menghadapi persalinan. Berkali-kali aku memanggil perawat dan dokter meminta mereka mengakhiri penderitaanku. Tetapi mereka tetap saja memintaku untuk tenang. “Ini baru pembukaan 7 Bu, yang sabar ya… Atau barangkali pengen telpon suaminya, kali aja habis ditelpon langsung lahir ini anaknya”, kata perawat mencoba mengajakku bercanda. Tetapi yang ada malah aku yang semakin sakit mendengar candaanya. Mana mungkin aku bisa menghubunginya, dia kan sedang di tengah laut, kalau saja dia bisa dihubungi pasti sudah dari tadi aku menelponnya, kataku dalam hati. Air mata ini semakin mengalir dengan derasnya. Merasakan sakitnya jiwa dan raga. Sungguh, belum pernah aku merasa sebegitu tersiksanya seperti saat ini.

“Nduk, ada benernya kata perawat tadi, Ibu coba telpon suamimu ya?”, kata Ibu di tengah-tengah kesakitanku. “Nggak mungkin bisa Bu, dia lagi di tengah”, ucapku sambil terisak. “Nggak ada yang nggak mungkin”, sahut Ibu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ku pandangi wajah Ibu yang sedang mencoba menghubungi suamiku. Berkali-kali dia mencoba dan mencoba. Tetapi hanya desahan nafas panjang Ibu saja yang menjadi jawaban. “Sudahlah Bu, Mas memang nggak bisa dihubungi”, lirihku. Lalu dengan wajah kecewa Ibu menutup ponselnya dan memasukkannya lagi ke dalam tas.

Sudah hampir satu jam berlalu setelah dokter memeriksaku. Sekarang rasanya sudah bertambah luar biasa. Aku berteriak sejadi-jadinya karena rasanya aku sudah tak kuat lagi. Semua perawat dan seorang dokter obsgin sedang sibuk menyiapkan peralatan di samping tempat tidurku. Aku rasa inilah waktunya. Rintihanku semakin keras. Begitu pula dengan kontraksi ini, semakin kuat dan sakit sekali rasanya. Kata dokter, tinggal satu lagi pembukaanku sudah lengkap. Diajarinya aku mempersiapkan fisik dan mental menghadapi persalinan yang sudah ada di depan mata. Aku hanya mengangguk-angguk saja.
Semua yang ada di ruangan ini sungguh sangat panik ku lihat. Mereka sepertinya sudah tak sabar menunggu saat. Apalagi aku, semua perasaan dalam dada bercampur menjadi satu, keluar bersama rintihan dan tangisan yang tiada henti. Di saat aku berada dalam kesakitan yang tiada tara itu, suara dering telepon Ibu berbunyi. Samar ku dengar Ibu menjawabnya dengan suara terbata-bata. “Istrimu mau melahirkan Nak, ini sudah mau pembukaan lengkap, doanya ya Nak… Iya… Iya… Mau ngomong dulu sama istrimu Nak?”, begitu percakapan Ibu ku dengar. “Suamimu Nduk…”, kata Ibu sambil berlinangan air mata menyerahkan ponselnya kepadaku. Aku segera menyambutnya, tak ku pedulikan lagi kontraksi yang menyerang semakin bertubi.

“Halo Mas…”, kataku di sela-sela isakan.
Sayang, yang kuat ya, aku bantu doa disini, udah jangan mikirin apa-apa, yang penting kumpulkan semua kekuatanmu untuk melahirkan anak kita. Kamu pasti kuat, kita hadapi ini sama-sama ya”, begitu kata suamiku, persis seperti dalam bayanganku tadi.
“Iya Mas…”, ucapku lirih.
“Yasudah, sekarang fokus ya Sayang, nanti kalo….”, brakkkk. Tuut—tut—tuut. Telepon terputus. Aku menghela nafas panjang sambil menahan segala kesakitan. Mungkin sudah tidak ada signal lagi di sana, begitu pikirku. Tetapi ada sebuah kekuatan yang menyertaiku saat ini. Tak ku rasakan lagi sakitnya kontraksi yang datang bertubi-tubi. Kata-kata suamiku baru saja terus terngiang-ngiang seakan membakar semangatku untuk bisa kuat dalam menghadapi ini  semua.

Sampai pada akhirnya, tepat tengah malam saat hari berganti, terdengar suara tangisan kecil nan nyaring dari seorang bayi mungil memecah ketegangan di ruangan ini. Aku telah berhasil melahirkannya di dunia ini. Ragaku rasanya sudah tak ada daya, mataku masih terbelalak dan mulutku masih menganga. Lalu aku tersadar setelah mendengar suara “Selamat ya Bu, anak Ibu telah lahir dengan selamat dan sehat. Laki-laki Bu…”, kata perawat sambil menyerahkan manusia kecil nan merah itu untukku. Aku tak bisa berkata-kata. Lidahku kelu, meski dalam hati ucapan syukur itu seolah tak mau berhenti. Airmata ku tak terbendung lagi. Segala rasa sakit luar biasa yang hampir dua hari ini menyiksaku, terhapus sudah kala ku tatap matanya yang sayu. Ku peluk dan ku dekap erat dia di atas dadaku, ku ciumi dia berkali-kali dengan bibirku. Ku sentuh jemari mungilnya dan rasanya sungguh sangat luar biasa bahagianya. Sungguh aku tak sabar memberi kabar untuk Ayahnya di sana. Bahwa buah cinta kami berdua sudah ada dalam pelukan Ibunya.

(Ku dedikasikan untuk semua saudariku yg sedang hamil dan menanti kelahiran buah hati sendiri, tanpa suami di sisi. Tetap semangat ya Bunda.... Kau tidak sendiri. Semoga lancar, selamat sehat semuanya, aamiin...)

Rabu, 16 Desember 2015

Catatan Dari Selat Masalembo

Aku sangat lelah. Ya, aku sangat lelah. Berhari-hari terapung di tengah laut, kapal pun entah melaju kemana tak tentu arah. Besarnya ombak sejak dua hari lalu membuat kapal ini terbawa arus, sulit dikendalikan. Kami hanya bisa berdoa. Berdoa dan bekerja. Iya, di tengah ombang-ambingnya ombak itu, di tengah derasnya arus itu, kami harus tetap bekerja. Ada saja mesin yang bermasalah setiap harinya.
.
Padahal, fisik kami serasa tak kuat menahan pusing dan mualnya melawan ombak. Sudah berhari-hari ini, perutku hanya terisi beberapa gigitan biskuit dan air putih saja. Itu pun kadang harus keluar lagi ketika mual sudah tak tertahankan. Entah sudah berapa tablet anti mabuk yang aku telan beberapa hari ini, tetapi rasanya tak berpengaruh sama sekali.
.
Hari ini harus bergulat bersama mesin-mesin itu lagi. Tak peduli seberapa pusing dan mual yang setiap saat menghampiri. Kapal ini membutuhkan beberapa spare-part baru sebenarnya, tapi apa daya, tak ada signal sedikitpun untuk menghubungi office agar mereka mengetahuinya. Kami hanya bisa pasrah, semoga bongkahan besi ini dapat bertahan setidaknya sampai ombak mereda dan kami mendapatkan signal.
.
Kami berada di Perairan Masalembo, entah dimana tepatnya, tetapi yang jelas ombak di sini mendebur sampai 5 meter tingginya. Masyaallah…
.
Saat ini aku hanya berharap agar air kembali tenang seperti kaca. Agar pelayaran kami tentu arahnya. Dan aku berharap signal segera menghampiri, agar aku bisa segera memberi laporan kepada orang-orang kantor tentang keadaan kapal kami. Ya, keadaan kapal kami, bukan keadaan kami. Kapal kami yang membutuhkan spare-part baru, kapal kami yang mengalami kendala ini itu. Tentang keadaan kami, yang hampir sekarat melawan ombak, biarlah menjadi rahasia kami, jangan sampai ada yang tahu, bahwa kami sempat sangat lemah, sempat merasa takut tak bisa kembali.
.
Dan untukmu yang di sana, yang mungkin sedang khawatir akan keadaan suamimu, tolong maafkan aku, bila nanti ada signal menghampiri dan aku tak sempat menghubungimu, itu karena aku lebih dulu menghubungi atasanku. Tak ada alasan lain, itu pun demi masa depan kita. Tolong mengertilah… Ini hanya sementara… Saat ini aku pun sedang merindukanmu, sangat merindukanmu.
.
“…semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa… Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam…” (Dewa 19 : Kangen).
.
***
.

Terimakasih Charlie...

--- Port of Makassar, Agustus 2011---
.
Akhirnya ku lihat juga daratan. Setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah lautan. Tepatnya pukul 23.30 WITA, kapal ini mulai berlabuh di dekat pelabuhan. Mengantre untuk bisa bersandar di dermaga. Ku lihat di kejauhan sana, gemerlap lampu kota yang seakan menyambutku dengan mesra. Makassar. Sebuah tujuan dengan seribu perjuangan. Dalam hati aku mengucap beribu syukur, akhirnya selamat juga kapal ini sampai di sini.
.
Aku sendirian di kamar. Suamiku sedang standby di control room menjalankan rutinitasnya jika kapal sudah mau bersandar. Sedikit banyak, sekarang aku mulai terbiasa dengan jadwalnya sehari-hari di kapal ini. Suamiku bertugas jaga di control room mulai pukul 04.00 sampai pukul 08.00, selanjutnya jika ada pekerjaan di kamar mesin atau hanya sekedar mengecek mesin, dia lanjut bekerja lagi pukul 09.00 sampai pukul12.00. Pukul 12.00 sampai pukul 16.00 kalau memang tidak ada trouble yang berati, dia bisa istirahat. Biasanya dia akan bermain game di kamar, bermain catur bersama temannya, atau tidur sambil menunggu giliran jaga. Tetapi selama aku disini, dia lebih banyak menemaniku. Menghabiskan waktu di kamar atau mengajakku berjalan-jalan keliling kapal sambil menjawab beribu pertanyaanku. Sore harinya dia harus bertugas jaga lagi mulai pukul 16.00 sampai pukul 20.00, dan selepas itu adalah waktu istirahatnya, jika mesin aman terkendali tentunya. Tetapi jika memang ada trouble besar di kapalnya, tidur satu menit pun dia tak merasakannya.
.
Oh… Alangkah panjangnya perjuangan dalam sebuah perjalanan ini. Aku melamun sejenak membayangkan hari-hari kemarin yang ku lalui di tengah lautan. Betapa kami di sini membutuhkan banyak sekali keberuntungan, campur tangan Tuhan. Terbayang kemarin kapal ini oleng seharian penuh. Membuat badanku menjadi tak karuan rasanya. Pusing sekali, mau berjalan pun rasanya tak bisa, dan tak jarang aku pun mual-mual sampai muntah. Aku bersyukur sekali kami masih di beri keselematan sampai daratan.

Lamunanku buyar ketika telepon kamar berdering. Tentu saja suamiku, “Hei, kita sudah sampai Makassar Yank… Tapi maaf ya, aku harus kerja sampai pagi nih, mau ganti spare part dulu mumpung ada teknisi di sini. Besok subuh aku balik ke kamar. Kita ada waktu satu atau dua jam-an nginjek tanah Makassar, habis subuh sampai sebelum jam tujuh. Oke?”. Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan. Ah… Sudah sampai di sini dengan selamat pun aku sudah sangat senang Mas…
.
Charlie ini adalah kapal container, ada sekitar 400-an peti kemas yang di angkut oleh kapal ini. Setiap sampai Makassar, seluruh peti kemas dengan berbagai barang di dalamnya ini akan di bongkar di pelabuhan dan akan di muat lagi peti kemas kosong untuk di bawa ke Jakarta. Begitu seterusnya. Perlu diketahui bahwa proses bongkar muat 400 container ini hanya memakan waktu tak kurang dari dua jam. Sangat cepat sekali. Maka bisa aku simpulkan, kapal ini hanya sebentar saja bersandar di pelabuhan, sudah tentu tak banyak waktu untuk suamiku menginjak daratan, membeli keperluan pun kadang tak sempat, apalagi untuk berjalan-jalan. Satu lagi asumsi orang tentang profesi suamiku ini terpatahkan. Bahwa katanya jika pelaut ketika menginjak daratan, ia akan ‘se-liar’ macan, sama sekali tidak terbuktikan.
.
Sudah tujuh hari telah aku habiskan di sini. Banyak sekali pelajaran yang aku dapati. Semua yang aku lihat dan aku rasakan di sini, benar-benar sangat mengubah fikiranku tentang suamiku selama ini.
.
Beberapa saat yang lalu, aku banyak mengeluhkan tentang dia. Tentang sikapnya yang seolah dingin akan hubungan kami. Tentang dia yang kurang perhatian, tentang dia yang menomorsatukan pekerjaan, dan… ah… banyak sekali hal buruk yang aku pikirkan tentang dia di sini….
.
Beberapa hari yang lalu, ketika kapal mulai memasuki perairan Masalembo, tangki kapal ini bocor. Air tawar persediaan kapal ini tercampur dengan air laut. Padahal baru sampai setengah perjalanan menuju Makassar. Bisa dibayangkan, masak, minum, mandi memakai air payau. Seumur hidup baru ku rasakan makan masakan dengan air payau, benar-benar tidak enak di mulut dan di perut. Berbagai aktifitas dengan menggunakan air pun di batasi. Masyaallah… Dan suamiku masih saja sempat mengucap syukur. Katanya keadaan seperti ini sudah biasa. Masih ada yang lebih buruk katanya, dulu bukan lagi air payau, tapi air laut. Mandi dan sebagainya pun memakai air laut yang bisa membuat gatal seluruh tubuh.
.
Ah… Seperti inikah hidupmu di sini sayang? Sementara di rumah sana, aku menikmati berbagai fasilitas yang ada dan sering lupa mengucap syukur. Dan lagi, aku pun masih saja berfikir buruk tentangmu? Oh… Betapa bodohnya istrimu ini. Seorang istri pelaut yang tak mengerti apapun tentang hidup seorang pelaut di lautan sana.
.
Malam ini rasanya tak bisa tidur, aku hanya memeluk jaket suamiku dan berharap dia diberikan segala kemudahan dalam perkejaannya di bawah sana. Pagi nanti ketika ku injak daratan di kota Makassar, aku akan mengucap janji pada diriku sendiri. Untuk lebih berfikir positif tentang apa yang dia lakukan di sini. Untuk lebih menghargai apa yang dia berikan kepadaku, apapun itu. Dan yang jelas, untuk lebih bersyukur dengan segala yang telah Tuhan karuniakan kepadaku, kepada kami, kepada keluarga yang akan kami bina nanti.
.
Tujuh hari di sini, ku dapati seribu pelajaran yang sangat berarti. Terimakasih Tuhan, terimakasih Sayang, terimakasih Charlie.

.
Akhirnya ku lihat juga daratan. Setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah lautan. Tepatnya pukul 23.30 WITA, kapal ini mulai berlabuh di dekat pelabuhan. Mengantre untuk bisa bersandar di dermaga. Ku lihat di kejauhan sana, gemerlap lampu kota yang seakan menyambutku dengan mesra. Makassar. Sebuah tujuan dengan seribu perjuangan. Dalam hati aku mengucap beribu syukur, akhirnya selamat juga kapal ini sampai di sini.
.
Aku sendirian di kamar. Suamiku sedang standby di control room menjalankan rutinitasnya jika kapal sudah mau bersandar. Sedikit banyak, sekarang aku mulai terbiasa dengan jadwalnya sehari-hari di kapal ini. Suamiku bertugas jaga di control room mulai pukul 04.00 sampai pukul 08.00, selanjutnya jika ada pekerjaan di kamar mesin atau hanya sekedar mengecek mesin, dia lanjut bekerja lagi pukul 09.00 sampai pukul12.00. Pukul 12.00 sampai pukul 16.00 kalau memang tidak ada trouble yang berati, dia bisa istirahat. Biasanya dia akan bermain game di kamar, bermain catur bersama temannya, atau tidur sambil menunggu giliran jaga. Tetapi selama aku disini, dia lebih banyak menemaniku. Menghabiskan waktu di kamar atau mengajakku berjalan-jalan keliling kapal sambil menjawab beribu pertanyaanku. Sore harinya dia harus bertugas jaga lagi mulai pukul 16.00 sampai pukul 20.00, dan selepas itu adalah waktu istirahatnya, jika mesin aman terkendali tentunya. Tetapi jika memang ada trouble besar di kapalnya, tidur satu menit pun dia tak merasakannya.
.
Oh… Alangkah panjangnya perjuangan dalam sebuah perjalanan ini. Aku melamun sejenak membayangkan hari-hari kemarin yang ku lalui di tengah lautan. Betapa kami di sini membutuhkan banyak sekali keberuntungan, campur tangan Tuhan. Terbayang kemarin kapal ini oleng seharian penuh. Membuat badanku menjadi tak karuan rasanya. Pusing sekali, mau berjalan pun rasanya tak bisa, dan tak jarang aku pun mual-mual sampai muntah. Aku bersyukur sekali kami masih di beri keselematan sampai daratan.

Lamunanku buyar ketika telepon kamar berdering. Tentu saja suamiku, “Hei, kita sudah sampai Makassar Yank… Tapi maaf ya, aku harus kerja sampai pagi nih, mau ganti spare part dulu mumpung ada teknisi di sini. Besok subuh aku balik ke kamar. Kita ada waktu satu atau dua jam-an nginjek tanah Makassar, habis subuh sampai sebelum jam tujuh. Oke?”. Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan. Ah… Sudah sampai di sini dengan selamat pun aku sudah sangat senang Mas…
.
Charlie ini adalah kapal container, ada sekitar 400-an peti kemas yang di angkut oleh kapal ini. Setiap sampai Makassar, seluruh peti kemas dengan berbagai barang di dalamnya ini akan di bongkar di pelabuhan dan akan di muat lagi peti kemas kosong untuk di bawa ke Jakarta. Begitu seterusnya. Perlu diketahui bahwa proses bongkar muat 400 container ini hanya memakan waktu tak kurang dari dua jam. Sangat cepat sekali. Maka bisa aku simpulkan, kapal ini hanya sebentar saja bersandar di pelabuhan, sudah tentu tak banyak waktu untuk suamiku menginjak daratan, membeli keperluan pun kadang tak sempat, apalagi untuk berjalan-jalan. Satu lagi asumsi orang tentang profesi suamiku ini terpatahkan. Bahwa katanya jika pelaut ketika menginjak daratan, ia akan ‘se-liar’ macan, sama sekali tidak terbuktikan.
.
Sudah tujuh hari telah aku habiskan di sini. Banyak sekali pelajaran yang aku dapati. Semua yang aku lihat dan aku rasakan di sini, benar-benar sangat mengubah fikiranku tentang suamiku selama ini.
.
Beberapa saat yang lalu, aku banyak mengeluhkan tentang dia. Tentang sikapnya yang seolah dingin akan hubungan kami. Tentang dia yang kurang perhatian, tentang dia yang menomorsatukan pekerjaan, dan… ah… banyak sekali hal buruk yang aku pikirkan tentang dia di sini….
.
Beberapa hari yang lalu, ketika kapal mulai memasuki perairan Masalembo, tangki kapal ini bocor. Air tawar persediaan kapal ini tercampur dengan air laut. Padahal baru sampai setengah perjalanan menuju Makassar. Bisa dibayangkan, masak, minum, mandi memakai air payau. Seumur hidup baru ku rasakan makan masakan dengan air payau, benar-benar tidak enak di mulut dan di perut. Berbagai aktifitas dengan menggunakan air pun di batasi. Masyaallah… Dan suamiku masih saja sempat mengucap syukur. Katanya keadaan seperti ini sudah biasa. Masih ada yang lebih buruk katanya, dulu bukan lagi air payau, tapi air laut. Mandi dan sebagainya pun memakai air laut yang bisa membuat gatal seluruh tubuh.
.
Ah… Seperti inikah hidupmu di sini sayang? Sementara di rumah sana, aku menikmati berbagai fasilitas yang ada dan sering lupa mengucap syukur. Dan lagi, aku pun masih saja berfikir buruk tentangmu? Oh… Betapa bodohnya istrimu ini. Seorang istri pelaut yang tak mengerti apapun tentang hidup seorang pelaut di lautan sana.
.
Malam ini rasanya tak bisa tidur, aku hanya memeluk jaket suamiku dan berharap dia diberikan segala kemudahan dalam perkejaannya di bawah sana. Pagi nanti ketika ku injak daratan di kota Makassar, aku akan mengucap janji pada diriku sendiri. Untuk lebih berfikir positif tentang apa yang dia lakukan di sini. Untuk lebih menghargai apa yang dia berikan kepadaku, apapun itu. Dan yang jelas, untuk lebih bersyukur dengan segala yang telah Tuhan karuniakan kepadaku, kepada kami, kepada keluarga yang akan kami bina nanti.
.
Tujuh hari di sini, ku dapati seribu pelajaran yang sangat berarti. Terimakasih Tuhan, terimakasih Sayang, terimakasih Charlie.

Akhirnya aku mengerti...

--- Laut Jawa, Agustus 2011---
.

Kapal ini sudah berlayar sejak kemarin pagi, entah sudah sampai mana. Yang bisa ku lihat dari balik jendela kamar ini hanyalah bentangan lautan yang seakan tiada bertepi. Ku dengar dari suamiku, selepas sholat subuh tadi, kami sedang mengarungi Laut Jawa, yang selama ini hanya bisa ku lihat dalam peta. Tepat tiga hari aku berada di kapal ini. Jangan membayangkan kami sedang asyik berbulan madu, karena suamiku, sejak kemarin sore berada di bawah sana, di kamar mesin, bekerja tanpa kenal lelah, tanpa kenal waktu. Dia kembali ke kamar hanya jika ingin menunaikan ibadah sholat. Selebihnya, dia mengecek keadaanku melalui telepon kapal. “Lagi ngapain Yank? Bosen ya? Maaf ya, masih banyak kerjaan. Nanti aku suruh koki kirim makanan ke kamar.” Biasanya itu yang dia katakan. Aku hanya meng-iya kan saja. Dalam hati aku semakin mengerti, bahwa pekerjaan suamiku memanglah sangat menguras waktu, tenaga dan fikiran. Dan tiba-tiba rasa bersalah itu menyeruak dalam dada… Tentang ego ku yang selama ini menuntut waktunya hanya untuk memperhatikanku… Ah… Bodoh sekali istrimu ini Mas…
.

Beberapa saat aku melamun membayangkan beratnya beban yang harus dirasakan suamiku. Seketika lamunanku buyar saat ku dengar ketukan pintu dan panggilan mesra suamiku di balik pintu. Ku buka dan ku sambut suamiku dengan senyuman. Ku lihat seluruh bajunya yang berlumuran oli dan wajahnya yang kusam belepotan penuh dengan noda-noda hitam. Di tengah-tengah matanya yang sayu itu, ku lihat senyuman yang tak mampu ku lupakan. Senyuman di tengah lelahnya raga, senyuman di antara letihnya jiwa, senyuman di atas beratnya beban atas masa depan.
.

Ah… Bahkan dalam keadaanmu yang seperti ini, kau selalu saja meyakinkan bahwa “Aku gak papa, gak capek kok, udah biasa…” dan sebagainya… Oh… Pandai sekali kau sembunyikan letih itu Sayang. Padahal aku sangat tahu, kau amat lelah, tetapi demi aku, kau sembunyikan segala rasa yang menyiksamu itu. Maafkan aku Suamiku… Selama ini ternyata aku tak begitu mengerti perjuanganmu di sini…
.
***
.
(Masih mengenang 4 tahun yang lalu, ketika mulai memahami betapa profesinya tak seperti yang ku pikirkan selama ini. Maafkan aku ya Yah  )
.
‪#‎catatanistriseorangpelaut‬

Kamis, 13 Agustus 2015

Melepas Rindu...

Tanjung Priok-Jakarta, Agustus 2011 . Seperti mimpi rasanya. Bahagia. Rindu ini akan segera bertemu dengan pemiliknya. Aku sedang menantinya menjemputku di depan pintu gerbang JITC (Jakarta International Container Terminal). Jantungku berdegup kencang seakan ini adalah pertemuan pertamaku dengannya. Rasa senang, cemas dan gelisah bercampur menjadi satu. Ah… Rasa ini sangat sulit diungkapkan. . Degupan kencang jantungku seakan berhenti saat melihat sosoknya di kejauhan sana. Berjalan semakin cepat seakan tak sabar menuju tempat ku berdiri. Semakin dekat dan semakin jelas ku lihat senyumnya mengembang sambil berlari memelukku. Ku sambut pelukannya, ku dekap erat seakan tak mau terpisahkan lagi. Oh Tuhan… Terimakasih atas pertemuan ini. Kami tak dapat berkata apapun, tapi mata dan hati kami seolah berbicara, mengatakan bahwa kami saling merindukan, dan bahagia dengan adanya pertemuan. Suamiku memegang erat jemariku, sembari berjalan dengan penuh semangat, mengajakku segera menemui kapalnya. Sepanjang perjalanan di antara koridor-koridor peti kemas itu, setiap kali bertemu orang, dia tersenyum sangat bahagia sambil berkata, “Hai Pak, ini istriku…”. Ah… Aku tersenyum malu melihat kelakuannya. Aku tahu, dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya yang menggelora saat ini. Seolah dia ingin semua orang tahu bahwa istrinya datang untuk menemaninya berlayar meski hanya beberapa hari. . Sebuah kapal besar dan kokoh berdiri tegak di hadapanku. Aku hanya tercengang sampai menghentikan langkahku. Maklum, seumur hidup belum pernah satu kali pun aku melihat kapal sebesar ini. Suamiku hanya tersenyum dan menarik tanganku untuk segera menuju ke sana. . KM. Charlie. Ku ucap bismillah lalu ku naiki tangga kapal ini satu persatu. Ku dengar bisikan lirih suamiku tepat di telinga kananku, “Inilah tempat rejeki kita berada Sayang, di sini ku gantungkan sebuah harapan besar untuk masa depan kita. Temani aku berlayar sebentar saja, lalu kau akan mengerti, bagaimana aku menghadapi semua ini.” Aku tak mampu menjawab, hanya sebuah anggukan pasti sebagai tanda bahwa aku siap menemani dia berlayar meski hanya beberapa hari. Akan ku nikmati, akan ku renungi, akan ku pahami, bagaimana sebenarnya dia dapat bertahan di sini. . Ku salami beberapa awak kapal di sini. Mereka semua sangat ramah. Senyum-senyum mereka sangat merekah, seolah mereka ikut merasakan apa yang sahabat mereka rasakan. “Selamat datang Olive… Kami belum pernah melihat teman kami tersenyum selebar itu, kami tahu, dia pasti sangat senang dan bangga bisa membawa istrinya ke sini, nikmatilah… Berlayarlah bersama kami…” Aku hanya tersenyum, merasakan ada sebuah persahabatan indah di sini. . Ah… Tak sabar aku melihat lautan, tempat dimana suamiku berlalu- lalang… Dalam hati aku berdoa, semoga angin, ombak, dan segalanya dapat bersahabat dengan kapal ini hingga selamat sampai tujuan. *** (Mengenang bahagianya 4 tahun yang lalu berbulan madu di atas ombang-ambingnya ombak Laut Jawa-Sulawesi. Berharap kelak bisa merasakannya lagi.)

Rabu, 01 Juli 2015

Catatan Dari Bilik Kamar Mesin

Ahh... Selesai sudah pekerjaan ini. Setelah 2 hari aku tidak melihat sinar mentari dan 2 malam aku tak merasakan indahnya gemerlap bintang di atas deru ombak di lautan. Ku ambil handuk kecil yang sudah hitam legam terkena oli untuk sekedar membersihkan keringatku setelah hampir dua hari berada di ruangan bersuhu hampir 40 derajat ini. Ku lepas ear set yang selama 2 hari ini menempel di telinga melindungiku dari bisingnya suara putaran mesin yang memekakkan gendang telinga. Segera ku naiki tangga, ku loncati dua-dua seolah aku sedang berlari menuju kemerdekaan. Iya. Dua hari ini aku berjuang menghadapi ujian pekerjaan di kamar panas dan kotor, di bawah ombang-ambingnya kapal oleh kejamnya ombak. "OVERHOUL". Di situ pula lah 2 hari ini aku berbuka puasa seadanya, menunaikan ibadah sebisanya, demi tetap mengapungnya bongkahan besi ini di tengah lautan, demi keselamatan semua awak kapal, demi sebuah nafkah untuk orang-orang tercinta di rumah sana. . Setengah berlari aku menaiki anak-anak tangga, tak kurasakan lagi lelah ini, tak ku pedulikan suara teman-teman yang menyuruhku berjalan pelan-pelan, karena lalai sedikit saja aku akan terpeleset jatuh ke bawah dan tak tau lagi bagaimana nantinya.... Ahh begitu kejamnya tempat rejekiku berada. . Beberapa tangga sudah ku naiki dan samar ku melihat cahaya mentari. Semakin ku bersemangat ku menuju ke atas untuk sekedar melepas penat. Kuintip dari jendela kamarku, aku bersorak kegirangan, ternyata kapalku sudah mendekati daratan. Ku lihat di kejauhan sana, ada sebentuk pulau seakan tersenyum menyambut kami. Meski pulau tak berpenghuni. Hanya sebuah mercu suar dan penjaganya mungkin. Tak apa. Ku sambar handphone lalu ku berlari lagi, ke atas. Ke tempat paling atas di kapal ini. Berharap sinyal datang menghampiriku. Memberiku kesempatan mendengar suara anak-anak dan istriku. Ahh... Apakabar mereka.... . Di tengah ku berlari ku mendengar tawaran seorang teman untuk segera menuju ke ruang makan. "Bas, ayo buruan, koki masak spesial hari ini, ketupat sama opor ayam kampung...!". Aku hanya melambaikan tangan lalu kulanjutkan perjalananku menuju atas deck. . Ah... Hari ini lebaran. Sampai tak terasa suasana itu. Pasti di rumah sana anak-anak kecewa ayahnya tidak bisa pulang. Pasti istriku sibuk menjelaskan pada mereka kenapa aku tak bisa pulang. Oh, maafkan aku keluargaku... Aku terlalu sibuk dg pekerjaanku... . Sampai juga di tempat teratas di kapal ini. Ku lihat layar handphone ku, tampak sinyal mulai berkedip-kedip meski tak lebih dari dua garis. Tak kurasakan pegalnya tanganku melambai-lambaikan barang yang menjadi satu-satunya pengobat rinduku akan sosok-sosok penyemangat di daratan jauh sana. . Tiiing. Sebuah pesan masuk. Segera ku buka dengan tak sabar setelah kulihat ada nama "istriku" muncul di atas layar. "Selamat berbuka puasa Yah, alhamdulillah ini puasa terakhir, selamat idul fitri juga untuk besok. Mohon maaf lahir batin ya Yah. Baik-baik di sana, semoga lebaran tahun depan kita bisa bersama-sama merayakannya." . Tak terasa genangan air di pelupuk mata ini mengalir begitu saja. Makin rindu aku dengan mereka... . Ku naiki pagar besi tanpa kupedulikan bahwa dibawanya adalah laut lepas yang seakan tiada bertepi. Segera ku tekan nomor di keypad hp yang makin usang ini. 085640708*** Tuuut...tuuut...tuuut.... Ah barangkali istriku sedang sibuk menyiapkan makanan lebaran untuk saudara-saudara di sana. Tidak terjawab. Ku coba lagi. Tuuut...tuuut...tuuut... Tidak terjawab. Aku tak putus asa. Meski kaki ini semakin bergetar menahan keseimbangan badan di atas pagar besi selebar 7cm. Meski keringat mulai bercucuran melihat ketinggian yang berakhir air laut dibawah sana. Ku coba lagi. Sembari membayangkan wajah istri dan anak-anakku yang berseri-seri kegirangan mendapati telpon dari ayahnya di rantauan sana. Tuuut...tuuut...tuuut... Klek. Seperti mau melonjak ke lautan ketika mendengar suara lembut seorang perempuan di kejauhan sana. . "Assalamu'alaikum Yah..." "Wa'alaikumsalam..., selamat lebaran sayang..." "I-iya-a... Ss-aa-mpa-i ma..." "Halo... Halooo... Bun...Bun.. Denger suaraku kan? Halo..." . Tut...tut...tut. ** Kupandangi layar handphone. Dua baris sinyal yang tadi berbaris kini hilang. Aku berkata lirih, "Ayah sampai perairan pulau Halmahera Utara Bun, Selamat lebaran, maaf Ayah selalu tak bisa pulang di saat-saat yang menyenangkan." . "Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... Laa ilaha illallahu allahu akbar. Allahu akbar walillahilhamdu..." . Aku bertakbir lirih sembari berjalan pelan menuruni anak tangga. Air mataku tak kuasa mengalir deras membasahi wajahku yang teramat kusam karena belum mandi entah sejak kapan. Dalam hati aku bersyukur pada Tuhan atas keselamatan dan kesehatan yang masih senantiasa Ia berikan. Masih Ia berikan aku kawan-kawan senasib seperjuangan yang menungguku menikmati ketupat dan opor ayam di ruang makan. * Ku habiskan hari ini bersama teman seperjuangan di atas gemuruhnya suara lautan. Mencoba menghibur diri atas rinduku pada mereka di jauh sana. Aku sadar, bukan hanya aku saja yang tersiksa rindu lebaran bersama keluarga, tetapi di sini, setidaknya ada 23 orang yang juga merasakannya. . Inilah catatanku. Catatan seorang laki-laki yang selalu tega meninggalkan keluarga demi cita-cita. Seorang laki-laki yang rela melewatkan segala momen indah bersama keluarga demi kebahagiaan bersama. . Semoga kebahagiaan itu segera ku raih dan ku bawa pulang untuk kalian. Agar kita tak perlu lagi terpisah beribu mil dalam waktu yang amat panjang. . Selamat hari lebaran. KM. Sombar, Halmahera, Agustus 2014. . Dari aku pelautmu yang kau nantikan cepat pulang. ** (Spesial untuk saudari2ku senasib yang lebaran ini suaminya tidak bisa pulang. Jangan bersedih hati, ketahuilah, di jauh sana suami kita pun sedang berjuang bekerja mempertaruhkan nyawa demi kebahagiaan kita. Pun berjuang menahan rindu akan suasana lebaran bersama keluarga. Peluklah ia dengan doa. Agar ia selalu pulang dengan selamat, membawa rizki yang halal dan barokah untuk kita. Aamiin.)

Jumat, 10 April 2015

Curahan Hati Anak Pelaut

Kata Ibu, Ayah adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Meski aku belum mengerti, tapi aku tau, Ayah itu orang yang hebat. Aku bahagia jika di dekatnya. Aku bahagia jika ia memelukku, memeluk adikku dan tentu saja aku bahagia saat ia memeluk Ibuku. Tak pernah ada waktu yang sia-sia jika Ayah selalu bersama kami. Tapi sekarang aku mulai gelisah. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak bertemu Ayah. Pernah aku bertanya pada Ibu, dimana Ayah? Dengan tersenyum dan semangat ia bercerita bahwa Ayah sedang bekerja mencari nafkah. Aku tak paham. Ingin sekali aku meminta Ibu mengantarkanku bertemu Ayah. Tapi aku tau. Setiap aku meminta hal itu, Ibu selalu menyembunyikan kesedihan di balik senyuman. Aku ingat sekali. Saat itu. Saat aku terakhir kali bersama Ayah. Kata Ibu, hari itu kami harus mengantar Ayah untuk berangkat kerja. Aku tak mengerti kenapa Ayah membawa tas besar yang didalamnya banyak sekali pakaian. Aku bertanya lagi, kali ini pada Ayah. Kata Ayah, Ayah akan lama pulang ke rumah. Ah... Aku tak juga paham. Yang jelas hari itu, aku senang sekali bisa bersama - sama mereka, naik mobil, jalan-jalan bersama. Dan ketika sampai di suatu tempat yang banyak sekali orang-orang ber-tas besar, Ayah turun, menciumi kami, memberi pesan, mengucap salam, lalu pergi dengan lambaian tangan. Aku ingat saat itu Ayah berkata padaku. Bahwa aku tidak boleh nakal, nurut sama Ibu dan jaga kesehatan. Aku hanya mengangguk meski tak paham. Yang aku lakukan saat itu adalah merengek minta di gendong Ayah sambil berkata, "Ayo pulang". Aku tak mengerti mengapa Ayah tak mau ku ajak pulang. Ayah malah pergi sampai saat ini belum juga kembali. Saat ini aku ingin sekali berjumpa dengan Ayahku. Entah... Apa ini yang dinamakan rindu? Hanya pelukan Ibu yang mampu meredakan keinginanku. Ayahku adalah seorang pelaut. Begitu kata Ibu. Ia bercerita bahwa Ayah bekerja di laut. Laut biru dg ombak bergulung-gulung seperti yang aku gambar beberapa hari yang lalu. Aku jadi berfikir, betapa beraninya Ayah bekerja di tempat seperti itu. Ayah.. Meski aku belum paham apa yang sedang engkau lakukan saat ini, tapi aku yakin, kau lakukan semua itu untuk kami. Ayah.. Meski aku belum paham mengapa kita berpisah, tapi aku yakin kau pun sebenarnya tak ingin berpisah. Ayah.. Ingin sekali aku memberitau Ibu bahwa aku merindukanmu. Tapi aku tak ingin membuat Ibu sedih karena rasa rinduku. Ayah.. Ingin sekali aku bercerita padamu, tentang Adik yang sudah makin tumbuh pintar. Tentang aku yang sudah bisa membantu Ibu. Juga tentang Ibu yang setiap malam memandangi fotomu. Ayah. Aku kira, semuanya merindukanmu. Tapi mungkin hanya aku yang tak bisa menahannya. Maafkan aku Yah... Tenang saja, hari ini, besok dan seterusnya, aku akan berusaha bertahan dengan rindu ini. Tapi jika boleh aku meminta 1 hal padamu Ayah... Aku ingin engkau cepat pulang. Aku tak inginkan apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Aku hampir lupa rasanya memelukmu. Dan parahnya, aku pun hampir lupa raut wajahmu. Maafkan aku Yah. Aku begitu merindukanmu...

Kamis, 28 Agustus 2014

Untukmu Olive Muda (Part 3)

"Wah... Pelaut... Uangnya pasti banyak.nih..." Sering kali aku mendengar komentar2 itu tiap kali mereka tau profesi suamiku. Aku hanya tersenyum dan meng-aamiin-i kata2 mereka. Banyak dan berkah. Aamiin... Olive2 junior... Sedikit gambaran tentang profesi calon pendampingmu ini... Bagi olive senior, aku yakin, kalian pasti lebih tau tentang ini... Sering suamiku berkata, "mencari yang berkah untuk pelaut itu susah." Semula aku tak tau maksudnya sebelum aku tau sistem kerja dikapal itu seperti apa... Ada salah 1 saudara dari mertua yang berprofesi sbg pelaut. Pelaut yang sukses begitu mertuaku menyebutnya. Sering kali suamiku disuruh untuk "berguru" padanya, mencontoh kiat2 suksesnya... Tapi suamiku selalu menolaknya. Aku tau, harapan orangtua suamiku pasti tak lain agar anaknya bisa lebih baik kehidupannya. Tak ada yang salah memang. Tapi menurut kami, prosesnya lah yang salah.. Keliru, dan sangat bertentangan dengan hati nurani kami... Untuk ukuran pelaut ber-ijazah 2 dengan kehidupan dunia yang sederhana seperti kami, sering sekali menuai tawa dan cerca bagi teman2 seprofesi suamiku... Tak masalah, kami sering menghadapinya dengan senyum... Kami cukup dengan semua ini asal itu berkah buat kami dan anak2 kami. Jadi, engkau para olive muda... Jika kau berkenan mendampingi seorang pelaut dan siap setia padanya, jadilah pendamping yang selalu rajin mengingatkan keberkahan rejeki yang dihasilkannya. Buang jauh2 mimpi bergelimang harta karna profesinya, jika kau tak tau bagaimana cara dia mendapatkannya. Banyak tawaran menggiurkan baginya untuk mendapatkan hasil lebih dari seharusnya, tapi ingat, itu hanya godaan duniawi saja. Aku yakin rejeki yang Tuhan berikan untuknya adalah yang seharusnya, jadi tak perlu lah mengambil yang bukan hak kita. Katakan itu berkali2 jika kelak suami kita tergoda untuk mencari hasil tambahan yang bukan seharusnya. Tak ada tujuan apa2 wahai olive muda, semua itu demi keberkahan keluarga kita nantinya. Hina dan cerca sering kali datang pada kami yang menganut prinsip ini. Katanya kami sok alim, sok suci... Tapi kami hanya tersenyum. Kami bukannya sok alim dan sok suci. Tapi setidaknya kami ingin sekali menjadi alim dan mendekati suci. Dan kami ingin berbagi dan mengingatkan ini.pada kalian... Tidak ada salahnya kan? Godaan pelaut itu tidak selalu pada kesetiaannya terhadap pasangan, tidak melulu pada wanita2 penggoda seperti orang2 bilang, tapi bahkan harta dan kedudukan lah penggoda utama. Bagi mereka yang tak tau apapun tentang pelaut, sering kali berasumsi bahwa bagi pelaut jalan menjadi kaya sangat mudah, bagi istri pelaut bermanjaan dengan fasilitas mewah sangat mudah. Hmmm... Aku cukup tersenyum saja. Bagiku menjadi seperti itu hanyalah bonus semata, yang paling utama... Berkah bagi keluarga. Olive muda... Mari belajar saling mengingatkan. Agar kita menjadi pendamping yang baik untuk popeye kita. Salah 1 nya dengan terus mengingatkannya agar ia jauh dari godaan harta yang bukan seharusnya. Aku yakin kalian pasti penasaran dengan sebutan "harta yg bukan seharusnya". Cobalah sedikit2 bertanya tentang itu pada popeyemu. Tentang kehidupan kapal yang sebenarnya. Tanyalah apa itu "kecing-an". Tanyalah apa ia sanggup menjauhi hal2 seperti itu. Tanyalah apa ia sanggup menghidupi keluargamu hanya dengan "harta yang seharusnya". Aku pun sama. Sedang selalu bertanya seperti itu pada popeyeku. Dan jika popeye kita sanggup. Aku yakin, berkah tak kan jauh2 dari kehidupan kita. Bahagia akan selalu mendekati kita. Meski banyak cerca dan hina. Meski banyak kesulitan menghadang kita. Tapi setidaknya kita menjauhi larangan-Nya. Yang akan meringankan perjalanan kita saat di akhirat kelak. Wallahu a'lam bisshawab. Semoga keluarga kita tidak termasuk keluarga yang merugi karna kelalaian kita untuk mengingatkan suami kita dalam mencari rizki barokah untuk keluarga. Aamiin... Orang bilang jadi pelaut gampang kaya. Orang bilang jadi istri pelaut bergelimang harta. Orang bilang bla... bla... bla... Semua itu memang impian manusiawi kita. Tapi yang utama... Keberkahan hidup berumah tangga bersama seorang pelaut lah yang menjadi cita-cita kita. Be smart Olivers... Be smart wife for your beloved husband... Kita pasti bisa...!!! Keep faith n be strong :*

Senin, 28 April 2014

Sedikit Cerita Dari Pelautku

Sebelumnya, saya pribadi mengucapkan prihatin dan duka yang sangat mendalam atas meninggalnya salah satu calon perwira pelayaran dari STIP, alm. Dimas Dickita Handoko, yang wafat terbunuh oleh senior2nya sendiri. Semoga beliau ditempatkan disisi-Nya, dan diberikan ketabahan bagi mereka yang ditinggalkan. Astaghfirullahaladziim... Sungguh miris sekali mendengar kabar itu. Berangkat untuk meraih cita-cita, tapi pulang hanya tinggal nama. Berharap lulus menjadi perwira laut sejati, tapi pulang dengan peti mati. Sungguh biadabkah pendidikan para calon pelaut ini? Betapa malu, miris, iba, tidak terima dan lain sebagainya... Yang aku rasakan ketika banyak orang memandang sekolah2 seperti ini tidak bermoral. Sekolah yang didalamnya hanya terdapat siswa yang gila hormat, gila pangkat, atau apapun mereka menyebutnya. Sebenarnya, semua siswa? Atau sebagiannya? Itu yang harus mereka tau sebelumnya.. Sekolah pelayaran. Sekolah berbasis semi militer. Aku pun kurang begitu tau persis bagaimana sistem didalamnya. Tapi aku yakin, setiap institusi pendidikan pasti tidak ada niat untuk mencelakakan anak didiknya. Tujuan diterapkannya "semi militer" itu pun, pasti ada tujuannya. Mengingat profesi yang harus diemban mereka para alumni, atau para perwira yang begitu membutuhkan nyali besar setelahnya. Hanya saja, mungkin sebagian siswa yang mengartikannya berbeda. Menjadikan basis pendidikan itu sebagai alasan bagi mereka untuk "menyiksa" junior2nya. Ahh sayang sekali... Melihat peristiwa2 seperti itu, aku jadi ingat cerita suamiku. Cerita yang cukup membuatku mengerti bahwa tidak mudah baginya menjadi seperti sekarang ini. Menjadi seorang pelaut yang kadang banyak asumsi "negatif" dari orang-orang itu. Hanya ingin berbagi. Terutama bagi kalian yang masih mempunyai "asumsi2" itu... Bersekolah di pelayaran sebenarnya tidak jauh beda suka dukanya dengan bersekolah di institusi2 lain. Harus rajin, harus disiplin, harus mampu bersaing dengan kawan lawannya. Jarang ada libur, tugas menumpuk, ditambah pula suasana jenuh diasrama. Sedikit bedanya mungkin basis ke-semi-militeran-nya itu. Menjadikan rasa takut dan was-was ketika bertatapan dengan senior, dan bahkan di luar area kampus. Kata suamiku, dulu setiap dia mau pulang kampung, harus "mampir" dulu ke kos seniornya untuk menikmati "hidangan" spesial. Entah itu tonjokan, tamparan, atau hidangan yang lainnya. Katanya itu tradisi. Siapa bilang? Tradisi yang hanya mereka yang menjalankannya. Ya, alhamdulillah... Suamiku masih diberikan perlindungan untuk lolos dari bermacam hidangan itu, dan diberi keimanan yang kuat untuk tidak menjalankan tradisi itu ketika ia menjadi senior. Aku tau dan sangat yakin itu. Dan membuatku sangat yakin bahwa hanya mereka yang tidak bermoral-lah yang menjalankan tradisi itu. Aku sangat yakin, bukan seperti itu pendidikan militer yang guru ajarkan di institusi tsb. Perjuangan2 telah ia lalui demi sebuah cita2. Aku tidak bisa membayangkan apalagi merasakan saat pertama ia melawan ombak. Berlayar pertama kali saat ia mengerjakan proyek laut (prola) dengan berbagai laporan "tulis tangan" yang tebalnya melebihi naskah ASKEB ku. Dulu aku mengerjakannya di meja atau ruangan yang enak. Tapi ia mengerjakannya di tengah2 gelombang di atas lautan yang seakan tak bertepi. Tapi alhamdulillah... Dia bersyukur bisa melaluinya. Masih adakah yang ingin berpendapat sekolah.pelayaran adalah sekolahnya para penggila pangkat? Semua tau. Bahwa setiap kesuksesan itu tak kan luput dari perjuangan. Aku bisa melihat hasil perjuangan itu dengan.memandang foto suamiku berseragam wisuda didampingi orang tuanya, 13 tahun silam. Walaupun aku belum ada disisinya, tapi aku bisa merasakan degup kegembiraan itu sekarang. Akhirnya sampailah ia pada cita2 menjadi seorang pelaut. Waktu berlalu sampai ia melangkah ke "dunia" berikutnya. Menyandang gelar perwira, ia tekadkan niat untuk mulai bekerja. Mencari nafkah untuk orang tua yang telah menggadaikan kebahagiaan demi cita2 anaknya. Ia sangat ingin mengembalikan "kebahagiaan2" yang tertunda gara2nya, meskipun tak seberapa. Niat yang begitu mulia. Dan niat mulia itu pun kembali harus di uji oleh-Nya... Sekitar tahun 2000-an. Pelayaran pertama suamiku. Line Surabaya-Belawan (Medan). Harus dilalui dengan pengalaman yang tak kan terlupakan. Kapalnya dibajak oleh sekelompok anggota GAM. Terjadi penyanderaan dan berujung tindak kekerasan. Pasukan bersenjata GAM itu merampas habis "harta" kapal dan menyandera sang kapten. Beruntung penyelamatan datang meski tak ada barang berharga yang tersisa sekalipun itu surat2 dan ijazah. Tak berarti apa. Yang paling berharga saat itu adalah nyawa. Syukur alhamdulillaaaah. Allah pun masih melindungi suamiku dan rekan2nya, meski menyisakan besarnya trauma. Suamiku pulang tanpa barang apapun yang dibawanya kecuali pakaian yang saat itu dikenakannya. Ia di "kembalikan" kepadakeluarganya oleh dinas perhubungan setempat. Syukur tiada tara ia ucapkan saat ia kembali bertemu keluarga dlm keadaan selamat. Pelayaran pertama yang menyisakan trauma... Tapi ia tak kan larut dalam trauma itu. Ia berfikir, semua itu adalah ujian. Kalau ia berhenti, maka sia2lah perjuangannya selama ini. Dan seiring berjalannya waktu, trauma itu berhasil ia taklukkan dg tekad yang bulat untuk meraih sukses dari perjuangan yang telah ia lalui. Sesekali trauma itu datang menggoda, ia tepis dengan membayangkan cita2nya. Aku tau, cita2nya hanya ingin menjadi imam yang bertanggung jawab bagi keluarganya. Bagi kami. Ia ingin menjadi pelaut yang hebat di mata anak istrinya. Di mata kami. Aku tau itu. Dia sudah menjadi imam yang hebat di mataku. Perjuangannya menjadi tulang punggung kami, lebih besar daripada perjuangannya menikmati "hidangan" senior2nya dulu pasti. Aku tau. Meskipun dia dididik sekeras besi, tapi ia kan selalu mengajar dengan hati pada anak2 kami. Biarlah jika hanya aku yang tau perjuanganmu ini, jangan berkecil hati menjalani profesimu ini. Doa dan smangat takkan berhenti untukmu, pelautku. Kesabaranku menunggu kepulanganmu adalah bukti kesetiaanku padamu. Dan perjuanganku menggapai surga-Nya. Aamiin. Dan masihkah ada yang ingin berpendapat pelaut itu profesi yang gila pangkat? Aku hanya akan tersenyum dan mendoakan yang telah berpendapat. (^v^)

Minggu, 13 April 2014

Rindu Seorang Pelaut

Setelah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter yang memakan waktu setengah hari... Menembus hutan dengan menumpang truk angkutan kayu, sampailah pada sebuah perkampungan... Dan akhirnya suamiku DAPAT SIGNAAALLLL...!!! Alhamdulillaahirrobbil 'alamiin.... Kau kabulkan doaku Ya Rabb... Doa kami semua. Suamiku msh diberi selamat, sehat meski dlm keadaan yg begitu sulit. Kapal "Sombar" nya sedang berada di laut tengah hutan dibalik bukit yang amat tinggi. Kapalnya tidak bisa berlabuh jangkar karena kedalaman laut yang tinggi, dan tidak adanya tenaga darat untuk membantunya. Padahal kayu yang akan dimuat adalah jenis kayu tenggelam yang jumlahnya ±400 batang. Muat pun hanya mengandalkan cuaca. Kapal yang tak bisa sandar itu semoga saja bisa diam dalam hantaman gelombang. Berharap angin besar tak kan menghampirinya. Saat ini baru 200 an kayu yang berhasil di muat di kapalnya. Itupun per-kayu harus dipakaikan pelampung. Setiap harinya hanya 10 kayu yang berhasil di muat. Jadi harus berapa banyak hari lagi yang dihabiskan kru "Sombar" di pedalaman Halmahera itu? Kata suamiku, ia terpaksa "mencari" signal untuk melapor ke perusahaan bahwa bahan bakar tinggal seminggu lagi. Mustahil jika harus menunggu selesainya muat kayu tsb. Ohhhh.... Betapa susahnya pekerjaanmu Yah... Belum lagi, persediaan logistik yang semakin menipis. Dan harus menempuh perjalanan 1 hari jika ingin bertemu pasar. Karena suamiku tidak berani memancing (mitos kalau istri lg hamil tdk boleh mancing), dan jika ia sungkan ikut memakan hasil pancingan anak2 buahnya, ia setiap hari hanya makan nasi putih dan telur rebus. Katanya piringnya tak ada warna lain selain putih.... Geli, tapi miris juga mendengarnya... Pun dia katanya ingin sekali mendengar suara anaknya... Ingin bertanya padaku ttg perkembangan si kecil didalam perut... Ia rela menempuh perjalanan jauh itu demi mendapatkan sinyal. Sedang asyiknya kami bertukar cerita, melepas rindu, truk kayu pun membunyikan klakson memberikan tanda bahwa akan berangkat ke dermaga tengah hutan itu (lagi). Huh... Kata siapa jadi pelaut itu enak hanya karna memandang gajinya? Jangan jadikan semua itu menjadi kesombongan semata. Semua profesi pasti ada resikonya. Janganlah berbangga hati menjadi istri pelaut tanpa mengerti segala perjuangan suami di tengah laut sana. Berat sekali rasanya menutup telepon. Tapi segera ku tepis dengan menyemengatinya meski hanya dg kata2. Tak lupa ia minta doa, agar segera bisa menyelesaikan misi ini dan pulang tepat pada waktunya. Itu pasti sayang. Doa itu tak kan pernah lalai aku panjatkan disetiap sujudku. Selamat berjuang lagi sayang. Semoga Allah selalu menyertaimu, sampai tali jangkarmu terikat kuat di pintu dermaga. Sampai kau berdiri dg senyuman di ujung pintu rumah kita. Aamiin...

Sabtu, 01 Februari 2014

Ketika Rindu Kita Tak Lebih Penting

Hmm... Suami berangkat layar lagi. Nunggu lagi. Galau lagi. Sepi lagi. Daaan.... rindu lagi. Begitulah, yang selalu aku rasakan setiap kali suami berangkat layar. Membesarkan hati untuk menjalani kehidupan sendiri. Tapi ternyata, mulai tahun ini, aku tidak begitu mempersoalkan rindu itu. Dan baru kali ini, rinduku pun menjadi nomor dua, tiga, empat, lima..... Atau pun nomor yang kesekian. Ternyata sekarang, ada yang lebih merindukannya. Ada yang lebih peka terhadap ketidakhadirannya. Semua itu terjadi karena adanya dia.. Buah cinta kami berdua. Dia yang masih kecil itu, ternyata hatinya lebih peka terhadap ayahnya. Dia yang baru saja akrab dengan wangi tubuh ayahnya, ternyata menyimpan sebuah pertanyaan besar dalam pikirannya... Dimana ayah? Kemana ayah? Aku mau didekat ayah... Memang semua itu tak terucap. Tapi aku dapat merasakannya.. Danish kecilku. Bertemu ayahnya saat usia 5 bulan, dan kembali ditinggal saat usia 1 tahun. Saat dia mulai terbiasa dg peluk cium ayahnya. Sekarang harus terbiasa dg ke"tiadaan" itu untuk sementara waktu. Rinduku sekarang jadi nomor kesekian.. Rindu yang semula menyiksa batin dan raga itu, serasa lebih ringan kurasa ketika melihat si kecil juga ikut merasakannya. Rasa ingin bertemu yang menggebu-gebu itu sekarang berubah menjadi ingin segera mempertemukannya dengan anak kami. Segala angan-angan untuk ini itu setelah dia kembali nanti, seakan tak penting asal peluk ciumnya sudah kembali lagi untuk si kecil buah hati kami. Kebiasaan menangis tiap malam ketika merindukannya, memang amatlah menyakitkan... Tapi ternyata lebih menyakitkan melihat si kecil memeluk dan menciumi foto ayahnya tiap kali melihat figura yang terpajang rapi di meja. Sedih memang saat berhari-hari tak bisa menghubunginya karna sinyal yang tak bersahabat. Tapi ternyata lebih sedih ketika dia memanggil "ayah" setiap tangis dan ratapnya yang menyayat. Dan memang senang bukan kepalang ketika ada pesan masuk bertuliskan "I miss u honey". Tapi sekarang lebih senang lagi jika ada pesan masuk berisikan, "baik2 disana bersama anak kita". Tak jarang, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk mamaksamu tetap menghubungiku. Sering sekali, rasa rindu itu menjadikan egoisku untuk memaksamu cepat pulang memelukku. Menjadi kewajiban, rasa rindu itu dulu menjadikan egoisku untuk marah-marah padamu saat berkali-kali mengundur kepulanganmu. Aku baru mengerti sekarang. Kau mengajariku bersikap dewasa dimasa yang nanti akan lebih sulit dari masa itu. Sekarang aku baru paham, rindu2 yg membuat egoisku itu, benar-benar tak lebih penting dari menjaga fikiran dan perasaan si kecil yang belum tau apa-apa itu. Sekarang dan masa-masa yang akan datang, aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah kesabaran dalam memahami rindu anak-anakku dg ayahnya. Aku ingin lebih berusaha, menjadikan rinduku adalah sebuah ketegaran dihadapan anak-anakku yang juga dilanda rindu dengan ayahnya. Dan penantian ini tak kan berarti tanpa akhirnya aku melihat mereka berpelukan di ujung pintu ini. Menjawabkan pertanyaan si kecil, "kemana sosok yang selalu memanjakanku, kenapa tiba-tiba tak ada dirumahku, kenapa tak menyahut ketika ku memanggilnya.... Jawaban itu kan ia temukan saat kembali memeluk ayahnya tercinta.. Suatu hari nanti. Itu pasti. Sabar ya anakku sayang. Kita tunggu ayah disini dengan banyak mendoakannya malam ataupun siang. Ayah pasti pulang.. Ayah pasti pulang..! Ayah pasti pulang..!!! Memeluk kita lagi dengan penuh kasih sayang. (◦ˆ⌣ˆ◦)•.♥.•

Senin, 09 Desember 2013

Jadi Istri Pelaut??? So What??

Suatu ketika ϑαπ setiap kali, ăϑα̲ orang bertanya padaku? "Suaminya кеяرд dimana?" Jawabku pasti, "لαυн... ϑ¡ laut...". Dan lanjut si penanya, "Wah... Pelaut ソソªªªª?, duuuh....". Aku cuman senyum2 ªăjjªªª... Meskipun dalam hati sebenarnya aku bertanya, "έmªπġ kenapa kalo suamiku pelaut?". Ǥǎ̜̣̍ƙ тдυ ソソªªªª apa Чǝлƍ ăϑα̲ ϑ¡ pikiran orang kalo denger profesi seorang pelaut... Perasaan biasa ªăjjªªª dech jadi istri pelaut.. Bakal ditinggal lama? Ǥǎ̜̣̍ƙ istri pelaut ªăjjªªª ќôǤ... Noh, istri para tentara, mereka pun bakal ditinggal lama oleh suaminya karna tugas negra... Istri para ulama, mereka pun ditinggal lama untuk.melaksanakan kurudz, bahkan sampai ke negara2 لαυн untuk menyebarkan ilmu agama... Atau istri para TKI, itu јนбα bakalan lama ditinggal suaminya kan? Hmm... ϑαπ masih banyak ㄴαgเ้ para istri yang lama tidak bertemu dg suami tercinta... So what??? Kita ga usah terlalu Gдւдυ dg pikiran orang2 itu. Kita јนбα Ǥǎ̜̣̍ƙ usah terlalu lebhay bersedihnya kalo Ĺªģ¡ kangen abis sama si popeye. (Meskipun q kadang ğî†ΰ јนбα sihhh, :P ) Jadi istri pelaut suka makan ati kalo kangen tp Ǥǎ̜̣̍ƙ Ъϊśå komunikasi? Betul έmªπġ. ☀Ъ膆ћµ Ĺ••=)) ••Ъ膆ћµ Ĺ ••\=D/ ••Ъ膆ћµ Ĺ• • ♣:D☀ Tapi sebelum kita menyanggupi untuk berdampingan dg nya, bukankah kita udah тдυ berbagai konsekuensinya? Чǝлƍ namanya ϑ¡ laut juga pasti Ǥǎ̜̣̍ƙ ăϑα̲ sinyal olivers... jαδι ოαυ makan ati sampe kapan? Нĭ°°~нĭ°°~нĭ ~°°нĭ~°°. Ǥǎ̜̣̍ƙ kita ªăjjªªª kok yg menganggap sinyal itu barang berharga bak intan berlian. Banyak mereka2 Чǝлƍ реηφεη sekali bertukar кдвдя dg kekasih hati tp terhalang sinyal. Mereka Чǝлƍ suaminya bertugas ϑ¡ pedalaman, apapun profesinya јนбα susah berkomunikasi dg orang2 tercintanya... Jadi istri pelaut takut ditinggal selingkuh ato tergoda untuk selingkuh??? ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ, kalo ini mah aku ketawain ªăjjªªª, ћϱћϱ....ћϱћϱ‎​‎​ (¬_¬")... Abisnya aneh2 ªăjjªªª sih... Selingkuh itu dosa. Jadi urusannya sama Allah. Чǝлƍ penting kita setia padanya. Masalah profesinya yg rentan dg kejenuhan dlm bekerja ϑαπ jauh dg istri tercinta membuat ia sesekali berpaling dari kita? Hmmm jangan suudzon dehh.. Pekerjaan dikapal itu menguras waktu ϑαπ tenaga lho. Untuk makan ªăjjªªª kadang lupa, apalagi untuk urusan Чǝлƍ begituan? Dan kalo masalah profesi ϑ¡ kait2kan dg perselingkuhan, toh banyak noh suami2 Чǝлƍ kerjanya di darat dan tiap hari ketemu dg istri tetep aja masih pengen selingkuh. Jadi apa profesi itu mempengaruhi? Semua tergantung pribadi masing2 kalo aku rasa... Yg penting kita setia. Urusan dia mau selingkuh ato tidak, itu urusan dia dg Yang Kuasa. Jadi jangan berkecil .hati oliversku sayang.... Bukan istri pelaut aja kok yg tiap hari Gдւдυ kalo ditinggal suami. ‎​​​Ήέέ •• Ήέέ •• Ήέέ •• Semua itu tergantung kita ოαυ gimana menjalaninya. Kalo dibuat berat ソソªªªª pasti terasa berat. Orang ϑ¡ bikin enjoy ªăjjªªª masih terasa berat, hihihi.... Gдւдυ sih έmªπġ, tp galaunya ϑ¡ kurangin dg banyak bersyukur ªăjjªªª. (^Ő^)/ ŐĶĂŶ...., olivers.... Kalo buat aku sich, jadi istri pelaut itu biasa aja. Tp menjadi istrinya, tepatnya menjadi istri Mas Wahyu Setiyo Aji Cahyono itu.... LUAR BIASA. Subhanallah.. Alhamdulillah.. #semoga_bermanfaat yaaa :) :*

Jumat, 22 November 2013

Untukmu, Olive Muda Part 2

Untukmu, Olive Muda Part 2 Jadi intinya para olive muda... Mulai sekarang, coba pikirkan baik2, tanyakan pada dirimu sendiri, apa aku kuat mjd istri seorang pelaut? apa aku siap.menjalani peran sbg ibu sekaligus ayah untuk anak2ku jika suami pergi berlayar? apa aku kuat menahan rindu hingga berbulan2 bahkan komunikasipun jarang? apa aku kuat mendengar suara sumbang mereka Чǝлƍ sering berbicara negatif ttg profesi ayah anak2ku? apa aku sanggup berjuang sendiri.dalam keadaan susah ϑαπ sakit tanpa dia ϑ¡ sampingku? ϑαπ masih banyak hal Чǝлƍ harus difikirkan Ĺªģ¡ untuk memantapkan diri ϑαπ hati menjadi istri seorang pelaut. Menjalani masa pacaran dengan seorang pelaut memang sangatlah sulit, tidak munafik... Kita sering kali merasa iri, atau sedih jika melihat pasangan2 lain ato sekedar ditanya "mana pacarmu?". ♌•͡˘.˘ •͡♌"◦°◦ºº ĦцüĦ.. rasanya pengen teriakkk maraah2 sekali, :'( Tapi ternyata itu belum apa2 sayang.... Maaf ya sayang ini bukannya menakut2i kalian, para olive muda, tapi untuk sekedar sharing apa yang aku rasakan, ϑαπ mungkin para olive lain јนбα merasakan... Sulitnya masa pacaran ternyata masih belum apa2... Saat sudah menikah banyak sekali hal2 sulit lainnya Чǝлƍ sebelumnya belum реялдн terfikirkan... Tinggal ϑ¡ rumah baru dg sejuta suasana baru, atau bahkan tinggal bersama mertua tanpa.suami kita jika ia sedang layar, ςερεяτι aku saat ini. Pernahkah kalian membayangkan berada ϑ¡ tingkatan ini wahai olive muda?? ‎​​​(•͡˘˛˘ •͡)" Ħ​ęëємM♏◦°◦ºº‎ ◦°◦ºº rasanya nikmat sekali.... :) Belum ㄴαgเ้ dg sejuta permasalahan2 yang seharusnya kita selesaikan berdua dg suami, tapi harus kita hadapi sendiri... Momen2 penting Чǝлƍ seharusnya kita bagi dengan suami, pun kita melewatinya seorang diri... Ketika hamil, ketika anak kita lahir, ketika sakit, ketika lebaran, maupun liburan... Harus rela dijalani tanpa kehadiran sosoknya Чǝлƍ kita nanti... Juga ketika si kecil memanggil2 ayahnya dan bertanya "Καραη ayah pulang bu?" Atau bahkan ketika si kecil tak menjawab jika ditanya orang, "dimana.ayahmu?" Suatu hal Чǝлƍ paling mengharukan sekaligus menyedihkan bagi kita untuk sekedar menjelaskannya... Pernahkah kalian membayangkan semua itu wahai adik2ku? Bayangkanlah... lalu tanyakan dalam hati pada dirimu sendiri. Apa aku sanggup melewati tahapan2 itu? Sebelum kalian melangkah terlalu dalam... sebelum semua terlambat ƙαц sadari.... Tapi semua itu berhasil aku lewati... tentunya dengan perjuangan... mampertahankan kesetiaan, memperbanyak kesabaran, menambah kepercayaan ϑαπ kasih sayang, ϑαπ tentunya.... doa setiap hari sepanjang malam..... Semoga dia jodohmu, sayang! Semoga memang dia pemilik tulang rusuk itu... ϑαπ jika memang kamu Чǝлƍ menjadi pendamping hidupnya, bahagialah menjadi istrinya, setialah padanya apapun profesinya..... Karna sesungguhnya, semua itu dia lakukan untuk.kebahagiaan kita ϑαπ anak2 kita... Dan, smua telah tergaris dalam suatu skenario ілձдн-NYA... SUBHANALLAH....

Senin, 21 Oktober 2013

Siapapun dia, Aku tetap akan mencintainya..

Profesi pelaut bukanlah alasan aku mencintainya. Dulu, saat aku mengenalnya, tepatnya 2 bulan sebelum pernikahan itu, aku belum tau siapa dia. Bahkan profesinya sbg pelaut pun, aku benar2 tak mengetahuinya. Tp aku tak memandang smua itu, aku tetap mencintainya. Sampai aku tau bahwa aku harus siap mjd wanita "tidak biasa" menghadapi profesinya. Pelaut. Profesi itu sebenarnya tak jauh beda dengan profesi lainnya. Tak lebih berharga, tak lebih istimewa. Semua pekerjaan yg halal pasti berharga dan istimewa. Harus banyak bersyukur dg profesi suami kita. Di luar sana banyak sekali yg lebih galau di banding kita karna jauh dari suami. Kurangi lah keluhan... Dan coba bayangkan... Para persit, istri para tentara, mereka jauh lebih sulit bertemu belahan jiwanya. Suaminya entah ada dimana, dan kadang pulang pun hanya tinggal nama. Para istri tukang becak. Mereka benar2 bergantung pada nafkah suaminya. Tp pada saat pulang, kadang sedikit sekali rupiah yg keluar dari kantong lusuhnya. Para istri suami yg lumpuh. Mereka harus berjuang sendirian menafkahi keluarganya. Sambil terus menangis mengingat sakit yg di derita suaminya.. Dan masih banyak lg yg lainnya... Bukankah kita ini wanita yg beruntung? Mempunyai suami yg sehat, yg sempurna menjalankan tugasnya sbg laki-laki untuk istri dan anak2nya? Keberuntungan ini yg patut kita syukuri. Dg sangat. Keberuntungan ini bukan untuk pamer dan bangga semata. Keberuntungan ini adalah perjuangan kita. Menjadi istri pelaut ato apapun profesinya, semua membutuhkan perjuangan. Suamiku, tak peduli pangkat jabatan nya apa, tak peduli gajinya sebanyak apa, tak peduli seragamnya bagaimana, aku akan tetap bangga mendampinginya... Bagiku, dia lah yg layak menerimaku sbg istrinya.... I love him... Very much :*

Rabu, 26 Juni 2013

Kalau Popeye di rumah...

Met malem olivers.. Semoga postingan malem ini bermanfaat dan menemani para olivers di sela kerinduan dalam penantian seorang popeye tercinta, hehe. Judulnya curhat kali ya, hhehe.. Oke, gini loh olivers.. Sebagai seorang istri yg berbulan2 berada dalam penantian untuk sang suami, aku biasanya seperti ini, ketika suamiku masih berlayar, aku slalu berkeinginan, berandai-andai gini, Seandainya nanti suamiku udah pulang, aku pengen jalan2 liburan ber2 yg jauh, melepas kangen.. Seandainya nanti suami udah pulang, aku pengen wisata kuliner, memanjakan dia dg makanan2 favoritnya. Seandainya nanti suamiku pulang, aku ingin melakukan ini, melakukan itu.... Dan lain lain lain sebagai bagainya.. Tapi, setelah ia pulang, ga tau kenapa, semua keinginan itu seakan terhapus oleh kehadiran sosoknya yg amat merindukan. Seakan pikiranku ganti seperti ini. Ah, tak perlulah aku keliling dunia, asalkan kau di sampingku... Haha.. Emang lebhay c kedengerannya, tp bener lho... Yg aku rasain sih. Ga tau ya kalo olive2 yg lain, hehehe.. Rasanya tu, adem, ayem, tentrem kalo popeye ada di rumah. Jadi, keinginan buat liburan, hanimun, melepas kangen di tempat yg romantis de el el itu udah ga penting lagi. Orang dia udah di depan mata aja senengnya udah minta ampun. Dia sehari 24 jam, seminggu 7 hari, sebulan 4 minggu, full ada buat aku dan anakku aja udah bahagianya tak terkira lhoo.. Jadi buat apa menginginkan liburan hanimun yg super wah itu. Kadang sesekali emang pernah sih, yaa aku anggap itu bonus yg luar biasaaa.. Keinginan buat manjain lidah suami di tempat2 makan kesukaan suami pun jg udah ga penting lagi. Kenapa coba? Orang suami aja bilang dia paling kangen sama masakan istrinya. Jd dia pengen lidahnya dimanjain setiap hari sama masakanku. Yaa meskipun aku kelimpungan kalo kehabisan resep. Hahaha, tapi sungguh, semua itu bahagianya lebih tak terkira lho.. Hmmm... Jd intinya, kalo suami di rumah setelah berlayar sekian lama itu bahagia sekali. Liburan di luar rumah untuk melepas kangen pun bahagia sekali. Tapi lebih bahagia lg kalo ternyata suamiku lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah bersamaku dan si kecil.. Jadi seakan penantian berbulan-bulan dan perjuangan kita menjadi single parent temporary itu terbayar dg adanya dia slalu di rumah ini. Ah, menyenangkan sekali menjadi istri seorang pelaut... :) :) ;)

Minggu, 02 Juni 2013

Kami Istri Pelaut!

Olivers.. Pengen berbagi cerita nich.. Q inget banget suatu kejadian. Dimana hatiku benar2 tesakiti oleh seorang wanita. Ia adl seorang istri dan ibu dari 2 orang anak. Bisa di bilang, hidupnya penuh dg kebersamaan dari orang2 tercintanya. Suaminya. Juga 2 buah hatinya. Jika ia pergi kemana-mana, bisa dipastikan ada suami di sampingnya. Selalu diantar kemanapun ia minta. Tidak manja sebenarnya. Tp agak manja dibilangnya. Sempat iri juga aku dibuatnya. Tapi, suatu hari aku dibuat menangis oleh wanita itu. Beberapa tahun lalu, suamiku memintaku menyusul ke Tanjung Priok, ia mengajakku berlayar untuk yg pertama kalinya. Maklum, aku belum pernah ke Tanjung Priok sebelumnya, aku takut, sendirian pula. Keluarga pun tak tega jika aku melakukannya. Aku ingin sekali menemui sang pujaan hati. Tapi aku takut. Aku buta Jakarta. Tapi aku rindu. Rindu suamiku. Teramat sangat ingin bertemu. Saat itu aku bahkan seperti peminta2. Aku minta siapa saja yg bersedia mengantarku ke Jakarta, Pelabuhan Tj. Priok tepatnya. Sebenernya banyak sekali yg bersedia, tapi kebanyakan mereka sudah punya acara. Akhirnya tiba pada pilihan terakhirku. Suami dr wanita itu yg aku harapkan akan mengantarku. Olivers... Wanita itu adalah istri dari kakak iparku. Jadi tepatnya, wanita itu adl kakakku. Bisa di bayangkan kan, betapa dekatnya hubungan kami. Saling berbagi, saling mengingatkan dan menasehati. Aku memohon pada wanita itu agar suaminya diijinkan untuk mengantarku. Menyatukan sepasang suami istri yang dilanda rindu. Tapi ternyata... Wanita itu tak mengijinkan suaminya untuk mengantarku Kecewa memang, tapi tak apa.. Berbagai alasan ia utarakan. Tak apa. Aku bisa menerima alasan2 itu sebenarnya. Tapi yg tak bisa aku lupakan dan terasa sangat menyakitkan. Wanita itu berkata, "Kenapa seperti itu sj minta tolong, itu kan udah resiko kamu jd istri pelaut? Makanya, aku lebih memilih Mas R*di (suaminya) daripada A*i (suamiku), udah suami istri kok tetep aja pisah2, mau ketemu aja susah." Ya Allah, sakit rasanya mendengar semua itu. Lebih sakit lg karna semua itu keluar dari mulut saudariku sendiri. Ya Allah, apa begitu hina menjadi istri seorang pelaut? Apa begitu hina profesi suamiku? Apa aku salah meminta bantuan padanya? Apa aku salah merindukan suamiku dan ingin sekali bertemu? Sampai2 wanita itu berkata sedemikian halus dan sukses menusuk perasaanku. Maka dari itu hai para istri2 yg selalu bisa bertemu suami setiap hari. Bersyukurlah... Bersyukurlah dg sangat.. Karna kami, para wanita yg miskin sekali dg kebersamaan bersama suami, yg harus banyak pengorbanan jika harus bertemu dg suami, yg dilanda kerinduan setiap hari pada suami, yg menangis tiap malam memohon keselamatan untuk suami, pun slalu dan sangat bersyukur meski hanya 1 layar SMS dari suami menyapa kami.. Itulah yg membuat kami menjadi lebih tegar dan kuat. Kami istri pelaut. Istri seseorang yg langkahnya bisa saja beresiko maut. Kerinduan adalah teman kami. Kebersamaan adalah impian kami. Kesetiaan adalah jiwa kami. I love n trust you my popeye. Biarlah orang mau berkata apa. Aku dan kamu akan tetap saling cinta, percaya dan setia selamanya. Berlayarlah.. Tak peduli sejauh mana, karna jarak tak kan mengurangi rasa cinta kita. Tak peduli negara manapun kau singgahi, kau kan tetap selalu di hati. Di pintu rumah ini, aku slalu berharap kau kembali dari rantauan panjang. Memelukku dan mengatakan "aku pulang sayang".

Jumat, 31 Mei 2013

Ternyata Romantis itu.....

Ini tentang kelalaianku untuk bersyukur pd Sang Khaliq atas diberikannya seorang suami yg istimewa. Semoga dpt menjadi inspirasi buat ibu2 muda untuk slalu mensyukuri semua yg dimiliki oleh suaminya. Dulu, sebelum menikah, selayaknya para remaja putri, aku pun memimpikan mempunyai seorang suami yg romantis seperti dalam film2 korea dan sebagainya. Yah, impian yg sangat wajar bukan? Dan semua ini terjawab ketika di hadirkan nya seorang ksatria gagah berani (lebhay) oleh Allah SWT untuk jd suamiku. Waktu ta'aruf sih memang begitu. Sampai melambung ku dibuai kata2nya yg romantis. Wajar bukan? Namanya aja perkenalan plus pendekatan. Setelah menikahpun tak jauh beda. Ia tetap romantis. Bahkan ia membuatku paham akan arti romantis yg sebenarnya... Romantis. Selalu mengatakan "i love u" disetiap sms yg dikirimkan. Selalu memanggil "sayang" disetiap panggilan. Menulis pesan mesra di wall maupun berbagi tautan. Memberi kejutan special tiap akhir pekan. Dan lain lain lain lainnya yg selalu membuat sang istri tak henti terbang karna buaian. Tapi bukan itu ternyata. Bukan romantis seperti itu yg diajarkan suamiku padaku. Sama sekali, suamiku tak bertipe seperti itu. Seperti romantisnya pria dalam dongeng romeo-juliet, jg bukan seperti yg slalu ku bayang-bayangkan dulu. Awalnya sempat sebel memang. Ya, karna mungkin sifatku yg terlalu kekanakan. Ingin slalu diperhatikan. Romantis. Sekarang aku mengerti. Romantis ala Ayah Aji, suamiku. Adalah ketika ia mengajarkanku bersikap dewasa dan tak manja. Ketika ia memaksaku menyukai sayuran ketika makan dan menceramahiku ttg semua kegunaannya. Ketika membentakku kala sikapku tak sewajarnya. Ketika membiarkanku slalu pulang-pergi kuliah tanpa harus mengantar- menjemputnya. Ketika mau menciumku jika sholat berjamaah bersamanya. Ketika memanggilku sebutan "mbak" padahal aku adalah istrinya. Dan ketika ia mengajariku mjd seorang perempuan tangguh di matanya. Ya, ia slalu berkata "jadilah perempuan tangguh mbak, bukan untuk siapa2, hanya untuk aku dan km sendiri". Jadi ia tetap saja tega membiarkanku naik motor Satria dg berbagai barang bawaan antara lain semen, hardplex, gulungan karpet, paku dan berbagai material bangunan melewati jalan berbatu padahal aku baru bisa mengemudi belum genap 1 minggu. Ia tetap saja tega meninggalkanku untuk berlayar meski saat itu aku baru hamil 4 bulan dan butuh perhatian. Ia hanya menelepon beberapa kali saja dalam sebulan dan tak pernah mengatakan kangen, rindu atau segera ingin pulang. Ia memberiku kesempatan untukku merasakan perjuangan melahirkan dan mengurus anak sendirian. Mungkin itu salah 1 cara dia menjadikanku tangguh sebagai seorang perempuan. Meskipun kadang geregetan, sebel dan jengkel karena sifatnya, tapi aku tau alasan mulia di baliknya. Sekarang aku pun paham. Romantis tak selamanya seperti anak ABG berpacaran. Tapi romantis bagiku dan suamiku adalah slalu mensyukuri apa yg ada dan tak ada dalam diri pasangan. Terimakasih suamiku. Kau ajarkan aku berbagai hal. Maafkan aku Ya Allah, kadang aku lalai untuk bersyukur atas Kau berikannya suami istimewa untukku. Maafkan aku jg suamiku. Meskipun aku belum bisa jadi istri seperti yg kau harapkan. Insyaallah aku akan berusaha terus untuk menjadi perempuan idaman untukmu juga anak kita. Amiin.

Untukmu, Olive muda!

Buat adik2ku yg masih berpacaran dg pelaut. Sayang, memang inilah berbagai cobaan mjd pasangan seorang pelaut. Komunikasi, kebersamaan, dan kasih sayang serta kesetiaan. Sering kali menguji kekuatan cinta kita pada sang popeye. Tidak munafik memang, aku pun yg sudah menikah sering diberondong ujian2 ini. Tapi sebenarnya tdk kita saja yg merasakan demikian, popeye kita yg jauh disana pun kadang merasakan hal yg sama. Kalau boleh memilih, mungkin popeye kita tak kan pernah ingin mjd seorang pelaut. Betapa menyenangkan hidup normal seperti orang, bisa setiap hari pulang ke rumah. Tak harus menunggu waktu yg panjang untuk bertemu sang kekasih meski hanya sekedar melepas lelah. Aku yakin, smua popeye pasti ingin merasakan itu. Adik2ku.. Tak salah kau merasa tak kuat menjalani hubungan bersama popeye mu. Karna tak ada seorang pun yg rela berpisah dg kekasihnya dan jarang bertemu. Sering aku bilang bahwa istri seorang pelaut adalah wonder women. Sebenernya hal itu adalah untuk menghibur diriku sendiri. Tak jarang aku bersedih di kala sendiri. Tak jarang aku menangis di kala rindu menyiksa. Tak jarang aku marah ketika butuh belaian manja dr orang yg di cinta. Tp aku cukup bangga dg diriku sendiri, bukan untuk pamer ataupun sombong belaka. Aku cukup mampu mjd seorang ibu dan ayah untuk anakku ketika suami tak ada. Adik2ku. Memang butuh berbagai extra untuk mjd pasangan seorang pelaut. Extra sabarrrr. Extra pengertian. Extra setia. Dan lain lain lain nyaa.. Memang itu profesinya. Memang itu jalan hidupnya. Jadi adik2ku, pikirkanlah dari sekarang sebelum terlambat menyesalinya. Tanyakan pd dirimu sendiri, apa aku cukup mampu mendampingi popeyu sampai tua nanti? Dg segala resiko dan komitmen yg ada? Apa aku memiliki berbagai extra itu? Setelah kau tau jawaban nya, maka yakin dan ambil lah jalan terbaik untuk hubungan kalian nantinya. Bertahan.. Atau berpisah.. Semoga bermanfaat, dan diberikan jalan untuk hubungan kalian...